Sumber Agama Islam

Salah satu prinsip-prinsip dasar ahlus sunnah adalah bahwa sumber agama islam dengan segala sisinya adalah wahyu Allah dalam bentuk Al Quran dan Hadits yag shohih. Dalil prinsip ini adalah firman Allah subhanahu wata’ala:

إِنَّ هَـذَا الْقُرْآنَ يِهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْراً كَبِيراً
“Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,” (QS. Al Isra’ : 9)
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumaNya” (QS. Al Hasyr: 7)
Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:
“Hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah Rasyidin (yang terarahkan) dan mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah hal tersebut dengan gigi geraham”. (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah)
Allah subhanahu wataala berfirman,
“Dan Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Sesungguhnya karunia Allah sangat besar atasmu”. (QS. An Nisa: 113)
Arti hikmah disini adalah As Sunnah
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. (QS. An Najm: 4)
Ini berarti bahwa hadits-hadits Rasulullah shalallahu alaiwassalam pun adalah wahyu dari Allah subhanahu wata’ala.
Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:
“Ketauhilah sesungguhna aku diberikan Al Quran dan yang sejenisnya (Sunnah) bersama-sama dengannya” (HR. Abu Dawud, Imam Ahmad, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Ibnu Majah)
Hasan bin Athiyah rahimahullah berkata:
“Jibril turun kepada Rasulullah membawa sunnah sebgaimana dia turun membawa Al Quran. Dia pun mengajarkan kepada beliau sunnah sebagaimana dia mengajarkan Beliau Al Quran”. (diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Al Marosil. Syaikh Su’aib Al Arnauth berkata, “Rijalnya tsiqot, rijal syaikhoin”)
Pengikutan pada keduanya adalah pengikutan pada khabar dari Allah dan tuntunan-Nya. Tidak ada suatu pun yang beh menyainginya dan menandingi keduanya, tiada pertentangan di antara keduanya. Kalau terbayang adanya pertentangan dalam kaca mata kita, maka hal itu disebabkan oleh kesalahpamahan (yang bisa disebabkan oleh banyak hal, terutama adalah kejahilan) atau hadits yang tidak shohih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s