Syukur dan Syabar; Karena Semua dalam Genggaman-Nya

Berbaik Sangka Kepada Allah

Kita wajib percaya sepenuhnya bahwa dalam menciptakan umat manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan sekaligus usia, rejeki dan jodoh buat manusia. Dengan demikian segala sesuatu yang baik atau yang buruk –menurut manusia- datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Katakanlah (hai Muhammad), semua itu datangnya dari Allah.” (Q.S. An-Nisa: 78).

Ketentuan Allah dengan hikmah-Nya bermacam-macam, sebagiannya ada yang disukai manusia dan ia lapang dada dengan taqdir sesuai dengan tabiatnya, dan sebagiannya tidak demikian halnya. Namun sebagai seorang yang beriman kepada Allah kitapun harus meyakini bahwa Allah sama sekali tidak akan menzhalimi hamba-hamba-Nya dengan itu semua yang terjadi adalah pasti yang terbaik buat manusia itu sendiri.

Camkanlah, firman Allah Azza Wa Jalla,

Artinya : “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu” (QS. Al Baqarah : 216).

Jadi sejatinya penilaian taqdir baik atau buruk hanya datang dari penilaian manusia; taqdir dikatakan baik ketika sesuai dengan maksud hatinya dan dikatakan buruk ketika berlawanan dengan keinginannya tapi itu semua lahir dari dominasi perasaan dan kelemahan akal manusia.

Yakinlah, bahwa setiap ketetapan itu tidak lepas dari hikmah dan kasihNya kepada makhlukNya, melebihi kasih seorang ibu kepada anaknya. Maka, berbaik sangkalah kepada Allah!!. Ya, demikianlah seorang mukmin mesti bersikap. Ingatlah firman Allah dalam sebuah hadits qudsi,

Artinya : “Aku tergantung biknya sangka hamba terhadapKu. Jika baik,maka baiklah adanya. Dan jika buruk, maka buruklah adanya”. (HR.Ahmad, Thabrani, dan Ibnu Hibban).

Ridha;  Bukan Tanpa Usaha

Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri mendorong manusia untuk tidak menyerah begitu saja kepada takdir. Firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, kecuali mereka mengubah diri mereka sendiri”. (Q.S. Ar Ra’d: 11)

Kesempurnaan tawakkal tidak bisa diraih tanpa usaha, keridhaan akan keputusan Allah hanya akan bermakna ketika usaha dan doa telah diusahakan semampu mungkin.

Sabar dan Syukur; Pribadi Menakjuban

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

“Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, seluruh kondisinya pasti menjadi baik. Dan itu hanya dimilki oleh seorang mukmin saja. Apabila ia memperoleh kenikmatan akan bersyukur, maka kesenangan itu akan menjadi kebaikan buat dirinya. Apabila ia tertimpa musibah, ia akan bersabar, dan musibah itu pu akan menjadi kebaikan buat dirinya”. (HR. Muslim)

Dalam hadits di atas, Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam memberitakan bahwa bagi seorang mukmin, baik di dalam kesenangan maupun musibah, tetap ada peluang untuk beruntung (berpahala).

Pertama; Ujian dalam bentuk kebaikan. Dalam ujian model ini ada kewajiban bagi seorang mukmin padanya, yaitu bersyukur. Dengan memanfaatkan segala kenikmatan tersebut untuk ketaatan kepada Allah sehingga dengan sikap syukur atas kenikmatan itu, menjadikan ia akan semakin dekat dengan Allah dan inilah orang yang beruntung dalam ujian jenis ini. Namun ada pula orang yang gagal dalam ujian jenis ini, yaitu orang yang dengan ujian ini justru semakin jauh dari Allah, yaitu ketika nikmat yang Allah berikan tersebut malah ia gunakan untuk durhaka dan maksiat kepada Allah, sehigga dengan nikmat tersebut ia justru semakin jauh dari Allah. Allah Ta`ala berfirman dalam surat Ibrahim (7):

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Kedua; Ujian dalam bentuk musibah. Dalam ujian model ini, juga ada kewajiban seorang mukmin padanya yaitu bersabar. Ketika bersabar dalam keadaan ini, maka sikap yang muncul adalah upaya untuk terus mengintrospeksi dan mengoreksi diri (bertaubat) atas dosa-dosa yang ia lakukan, sehingga selain mendapatkan pahala, sikap sabar ini juga dapat menggugurkan dosa-dosanya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu `Alaihi wa Sallam:

“Seorang muslim tidak ditimpa oleh rasa letih,penyakit,gelisah, sedih, gangguan ataupun kegundahan, hingga duri tertancap padanya melainkan Allah menebus dengannya sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Dan pasti setiap orang akan diberikan cobaan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan tetapi perlu diingat cobaan tersebut disesuaikan dengan dirinya, seperti halnya anak SD tidak mungkin diberikan ujian anak SMP dan seterusnya, dan buktinya kita lulus dalam ujian tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala, berfirman artinya:

“Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Inna Lillahi Wainna ilaihi Rooji’uun” . Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah : 155 – 157).

Secara bahasa sabar berarti melarang dan menahan. Menurut syara’ ia berarti menahan nafsu dari ketergesaan, menahan lisan dari keluhan dan menahan anggota badan dari memukul-mukul pipi dan merobek-robek pakaian (ungkapan kesedihan), atau yang lainnya. Perlu kita ketahui, bahwa semua apa yang ditemui oleh hamba dalam kehidupan ini tidak terlepas dari dua macam: Pertama: Yang sesuai dengan hawa nafsunya. Kedua: Yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya, bahkan ia tidak menyukainya.

Hamba itu memerlukan sabar pada masing-masing dari dua macam kondisi tersebut. Disamping itu seorang hamba keadaannya itu tidak terlepas dari salah satu diantara dua macam atau dari kedua-duanya. Macam yang pertama: Apa yang sesuai dengan hawa nafsu yaitu: kesehatan, keselamatan, harta, kedudukan, banyak keluarga, luasnya sebab-sebab, banyaknya pengikut dan penolong dan semua kelezatan dunia. Arti sabar atas ‘afiat adalah bahwa ia tidak cenderung kepadanya, mengerti bahwa semua itu adalah titipan di sisinya, mungkin diminta kembali di waktu dekat, tidak melepaskan dirinya dalam bersenang-senang dengannya, ia bersungguh-sungguh dalam merasakan kenikmatan, kelezatan, kesenangan dan permainan dan ia menjaga hak-hak Allah pada hartanya dengan infaq, pada badannya dengan memberikan bantuan pada mulutnya dengan memberikan kebenaran dan begitu pula pada semua yang dikaruniakan Allah kepadanya. Sabar ini berhubungan dengan syukur. Maka sabar tidak sempurna kecuali dengan melaksanakan hak syukur.

Kedua: Apa yang tidak disukai dengan hawa nafsu dan tabiat. Dan yang demikian itu tidak terlepas/berkaitan dengan kemauan hamba seperti ta’at dan maksiat atau tidak berkaitan dengan kemauannya, tetapi ia mempunyai kemauan untuk menghilangkan seperti meyembuhkan diri dari keinginan orang untuk menyakiti dengan membalas dendam.

Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berfirman: yang artinya: “Apabila Aku hadapkan kepada seorang hamba dari hamba-hamba-Ku suatu bencana pada tubuhnya atau hartanya atau anaknya, kemudian ia menghadapi demikian itu dengan sabar yang bagus/baik, niscaya Aku malu kepadanya pada hari kiamat untuk mendirikan timbangan atau menyebarkan catatan amal baginya”. (H.R. Ibnu Adi dari hadits Anas).

Apabila kita ditimpa musibah maka berdo’alah sesuai dengan sabda Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Tidaklah hamba yang mukmin yang ditimpakan suatu bencana, lalu ia membaca: “Innalillahi wainna ilaihi rajiu’n” Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya. Wahai Allah! Berikanlah pahala kepadaku dalam bencanaku dan berilah aku akibat yang lebih baik dari padanya” (H.R. Muslim dari hadits Ummu Salamah).

Walhasil, marilah kita sikapi kejadian apapun dengan sikap terbaik, jika mendapatkan kebaikan maka sikapi dengan syukur, jika ditimpa musibah maka sikapi dengan sabar, itulah pribadi mukmin yang dikagumi oleh Allah dan RasulNya, dialah pribadi ajaib yang sukses dunia akhirat, dan mendapat ridha dan keberkahan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga bermanfaat dan semoga kita digolongkan hamba yang pandai bersyukur dan bersabar dalam keadaan apapun dan bagimanapun. Amiin.

Berbaik Sangka Kepada Allah
Kita wajib percaya sepenuhnya bahwa dalam menciptakan umat manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan sekaligus usia, rejeki dan jodoh buat manusia. Dengan demikian segala sesuatu yang baik atau yang buruk –menurut manusia- datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Katakanlah (hai Muhammad), semua itu datangnya dari Allah.” (Q.S. An-Nisa: 78).

Ketentuan Allah dengan hikmah-Nya bermacam-macam, sebagiannya ada yang disukai manusia dan ia lapang dada dengan taqdir sesuai dengan tabiatnya, dan sebagiannya tidak demikian halnya. Namun sebagai seorang yang beriman kepada Allah kitapun harus meyakini bahwa Allah sama sekali tidak akan menzhalimi hamba-hamba-Nya dengan itu semua yang terjadi adalah pasti yang terbaik buat manusia itu sendiri.

Camkanlah, firman Allah Azza Wa Jalla, artinya : “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu” (QS. Al Baqarah : 216).

Jadi sejatinya penilaian taqdir baik atau buruk hanya datang dari penilaian manusia; taqdir dikatakan baik ketika sesuai dengan maksud hatinya dan dikatakan buruk ketika berlawanan dengan keinginannya tapi itu semua lahir dari dominasi perasaan dan kelemahan akal manusia.

Yakinlah, bahwa setiap ketetapan itu tidak lepas dari hikmah dan kasihNya kepada makhlukNya, melebihi kasih seorang ibu kepada anaknya. Maka, berbaik sangkalah kepada Allah!!. Ya, demikianlah seorang mukmin mesti bersikap. Ingatlah firman Allah dalam sebuah hadits qudsi, artinya : “Aku tergantung biknya sangka hamba terhadapKu. Jika baik,maka baiklah adanya. Dan jika buruk, maka buruklah adanya”. (HR.Ahmad, Thabrani, dan Ibnu Hibban).

Ridha; Bukan Tanpa Usaha
Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri mendorong manusia untuk tidak menyerah begitu saja kepada takdir. Firman-Nya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, kecuali mereka mengubah diri mereka sendiri”. (Q.S. Ar Ra’d: 11)
Kesempurnaan tawakkal tidak bisa diraih tanpa usaha, keridhaan akan keputusan Allah hanya akan bermakna ketika usaha dan doa telah diusahakan semampu mungkin.

Sabar dan Syukur; Pribadi Ajaib
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Sungguh ajaib kondisi seorang mukmin, seluruh kondisinya pasti menjadi baik. Dan itu hanya dimilki oleh seorang mukmin saja. Apabila ia memperoleh kenikmatan akan bersyukur, maka kesenangan itu akan menjadi kebaikan buat dirinya. Apabila ia tertimpa musibah, ia akan bersabar, dan musibah itu pu akan menjadi kebaikan buat dirinya”. (HR. Muslim)

Dalam hadits di atas, Rasulullah Shalallahu `alaihi wasallam memberitakan bahwa bagi seorang mukmin, baik didalam kesenangan maupun musibah, tetap ada peluang untuk beruntung (berpahala).

Pertama; Ujian dalam bentuk kebaikan. Dalam ujian model ini ada kewajiban bagi seorang mukmin padanya, yaitu bersyukur. Dengan memanfaatkan segala kenikmatan tersebut untuk ketaatan kepada Allah sehingga dengan sikap syukur atas kenikmatan itu, menjadikan ia akan semakin dekat dengan Allah dan inilah orang yang beruntung dalam ujian jenis ini. Namun ada pula orang yang gagal dalam ujian jenis ini, yaitu orang yang dengan ujian ini justru semakin jauh dari Allah, yaitu ketika nikmat yang Allah berikan tersebut malah ia gunakan untuk durhaka dan maksiat kepada Allah, sehigga dengan nikmat tersebut ia justru semakin jauh dari Allah. Allah Ta`ala berfirman dalam surat Ibrahim (7):

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Kedua; Ujian dalam bentuk musibah. Dalam ujian model ini, juga ada kewajiban seorang mukmin padanya yaitu bersabar. Ketika bersabar dalam keadaan ini, maka sikap yang muncul adalah upaya untuk terus mengintrospeksi dan mengoreksi diri (bertaubat) atas dosa-dosa yang ia lakukan, sehingga selain mendapatkan pahala, sikap sabar ini juga dapat menggugurkan dosa-dosanya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu `Alaihi wa Sallam: “Seorang muslim tidak ditimpa oleh rasa letih,penyakit,gelisah, sedih, gangguan ataupun kegundahan, hingga duri tertancap padanya melainkan Allah menebus dengannya sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Dan pasti setiap orang akan diberikan cobaan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan tetapi perlu diingat cobaan tersebut disesuaikan dengan dirinya, seperti halnya anak SD tidak mungkin diberikan ujian anak SMP dan seterusnya, dan buktinya kita lulus dalam ujian tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala, berfirman artinya: “Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Inna Lillahi Wainna ilaihi Rooji`uun” . Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah : 155 – 157).

Secara bahasa sabar berarti melarang dan menahan. Menurut syara’ ia berarti menahan nafsu dari ketergesaan, menahan lisan dari keluhan dan menahan anggota badan dari memukul-mukul pipi dan merobek-robek pakaian (ungkapan kesedihan), atau yang lainnya. Perlu kita ketahui, bahwa semua apa yang ditemui oleh hamba dalam kehidupan ini tidak terlepas dari dua macam: Pertama: Yang sesuai dengan hawa nafsunya. Kedua: Yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya, bahkan ia tidak menyukainya.

Hamba itu memerlukan sabar pada masing-masing dari dua macam kondisi tersebut. Disamping itu seorang hamba keadaannya itu tidak terlepas dari salah satu diantara dua macam atau dari kedua-duanya. Macam yang pertama: Apa yang sesuai dengan hawa nafsu yaitu: kesehatan, keselamatan, harta, kedudukan, banyak keluarga, luasnya sebab-sebab, banyaknya pengikut dan penolong dan semua kelezatan dunia. Arti sabar atas ‘afiat adalah bahwa ia tidak cenderung kepadanya, mengerti bahwa semua itu adalah titipan di sisinya, mungkin diminta kembali di waktu dekat, tidak melepaskan dirinya dalam bersenang-senang dengannya, ia bersungguh-sungguh dalam merasakan kenikmatan, kelezatan, kesenangan dan permainan dan ia menjaga hak-hak Allah pada hartanya dengan infaq, pada badannya dengan memberikan bantuan pada mulutnya dengan memberikan kebenaran dan begitu pula pada semua yang dikaruniakan Allah kepadanya. Sabar ini berhubungan dengan syukur. Maka sabar tidak sempurna kecuali dengan melaksanakan hak syukur.

Kedua: Apa yang tidak disukai dengan hawa nafsu dan tabiat. Dan yang demikian itu tidak terlepas/berkaitan dengan kemauan hamba seperti ta’at dan maksiat atau tidak berkaitan dengan kemauannya, tetapi ia mempunyai kemauan untuk menghilangkan seperti meyembuhkan diri dari keinginan orang untuk menyakiti dengan membalas dendam.

Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berfirman: yang artinya: “Apabila Aku hadapkan kepada seorang hamba dari hamba-hamba-Ku suatu bencana pada tubuhnya atau hartanya atau anaknya, kemudian ia menghadapi demikian itu dengan sabar yang bagus/baik, niscaya Aku malu kepadanya pada hari kiamat untuk mendirikan timbangan atau menyebarkan catatan amal baginya”. (H.R. Ibnu Adi dari hadits Anas).

Apabila kita ditimpa musibah maka berdo’alah sesuai dengan sabda Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Tidaklah hamba yang mukmin yang ditimpakan suatu bencana, lalu ia membaca: “Innalillahi wainna ilaihi rajiu’n” Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya. Wahai Allah! Berikanlah pahala kepadaku dalam bencanaku dan berilah aku akibat yang lebih baik dari padanya” (H.R. Muslim dari hadits Ummu Salamah).

Walhasil, marilah kita sikapi kejadian apapun dengan sikap terbaik, jika mendapatkan kebaikan maka sikapi dengan syukur, jika ditimpa musibah maka sikapi dengan sabar, itulah pribadi mukmin yang dikagumi oleh Allah dan RasulNya, dialah pribadi ajaib yang sukses dunia akhirat, dan mendapat ridha dan keberkahan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga bermanfa`at dan semoga kita digolongkan hamba yang pandai bersyukur dan bersabar dalam keadaan apapun dan bagimanapun. Amiin.

5 thoughts on “Syukur dan Syabar; Karena Semua dalam Genggaman-Nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s