<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Be Myself</title>
	<atom:link href="http://muhamadilyas.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muhamadilyas.wordpress.com</link>
	<description>Hanya Aku</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Jan 2012 14:20:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='muhamadilyas.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Be Myself</title>
		<link>http://muhamadilyas.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://muhamadilyas.wordpress.com/osd.xml" title="Be Myself" />
	<atom:link rel='hub' href='http://muhamadilyas.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Renungan Dakwah, Pelajaran Dari Surat Al A‘raaf 163-166</title>
		<link>http://muhamadilyas.wordpress.com/2011/09/11/renungan-dakwah-pelajaran-dari-surat-al-a%e2%80%98raaf-163-166/</link>
		<comments>http://muhamadilyas.wordpress.com/2011/09/11/renungan-dakwah-pelajaran-dari-surat-al-a%e2%80%98raaf-163-166/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Sep 2011 06:14:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ELSUNNAH&#8482;</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhamadilyas.wordpress.com/?p=554</guid>
		<description><![CDATA[“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka Berlaku fasik.” (QS. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhamadilyas.wordpress.com&amp;blog=8013795&amp;post=554&amp;subd=muhamadilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka Berlaku fasik.” </em>(QS. Al A‘raaf: 163)</p>
<p>“<em>Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: &#8220;Mengapa kalian menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang Amat keras?&#8221; mereka menjawab: &#8220;Agar Kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhan kalian, dan supaya mereka bertakwa.”</em> (QS. Al A‘raaf: 164)</p>
<p>“<em>Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.</em>”(QS. Al A‘raaf: 165)</p>
<p>“<em>Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: &#8220;Jadilah kamu kera yang hina</em>” (QS. Al A‘raaf: 166)<span id="more-554"></span></p>
<p>Cerita singkatnya adalah bahwa sekelompok Bani Israil nelayan yang menempati sebuah perkampungan pesisir mendapat ujian dari Alloh  dengan munculnya banyak sekali ikan setiap hari sabtu di dekat pantai mereka dan selain hari sabtu ikan-ikan itu tidak muncul. Sedangkan mereka dilarang bekerja di hari sabtu.</p>
<p>Allah mengabarkan tentang penduduk negeri ini bahwa mereka terbagi menjadi tiga golongan</p>
<ol>
<li>Mereka yang tidak kuat menahan ujian ini, maka merekapun mendapatkan suatu cara tipu muslihat/siasat untuk mendapatkan ikan yang bermunculan di hari sabtu tanpa bekerja di hari sabtu. Yaitu dengan memasang jala mereka di hari sabtu dan mengambil ikannya di hari ahad. Pada hakikatnya mereka menangkap ikan-ikan itu pada hari sabtu, tetapi mengambilnya di hari ahad.</li>
<li>Mereka yang memperingatkan hal itu dan mendakwahkan para pelanggar untuk tidak berbuat yang demikian dan menjauhi mereka.</li>
<li>Mereka yang bersikap pasif. Mereka tidak melakukan dan tidak mencegahnya. Bahkan mereka mengatakan kepada pihak yang berdakwah:</li>
</ol>
<p>&#8220;<em>Untuk apa kalian mengingatkan kaum yang Alloh </em><em> </em><em>memang pasti membinasakan mereka dan menyiksa merak</em><em>a dengan siksa yang pedih??”</em></p>
<p>Yakni mengapa kalian mencegah mereka? Padahal kalian sudah tahu bahwa mereka telah binasa dan layak mendapatkan adzab dari Allah, sehingga tidak ada gunanya kalian melarang mereka.</p>
<p>Maka para da&#8217;i itu menjawab :</p>
<p>&#8220;<em>Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabb-Mu dan agar mereka bertakwa</em>”.</p>
<p>Maka hasilnya adalah kutukan Alloh l bagi kaum durhaka dan menjadikan mereka kera-kera yang hina sedangkan da&#8217;i-da&#8217;i diselamatkan. Adapun kelompok ketiga yang tidak menjala di hari sabtu itu dan juga tidak berdakwah, nasib mereka tidak disebutkan di ayat-ayat tadi.</p>
<p>Para ulama mempunyai dua pendapat tentang nasib kelompok ketiga ini, ada yang berpendapat mereka terbinasakan karena masuk dalam arti kata-kata <strong>&#8220;dzolimuun&#8221;</strong> dan ada pula yang mengatakan bahwa mereka tidak disebutkan untuk me-rendahkan posisi mereka yang tidak mau dakwah.</p>
<p>Dari ikrimah, dari Ibnu ’Abbas ra tentang ayat ini, ia mengatakan, ”Aku tidak tahu, apakah orang-orang yang mengatakan ’<em>Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka</em>,’ selamat atau tidak?” Ikrimah mengatakan, ”Aku tetap demikian hingga aku mengetahui bahwa mereka selamat, lalu Allah memberikan ketentraman kepadaku.” Ath Thabari (XIII/187)</p>
<p>Syaikh Muhammad Nasib Ar-Rifa&#8217;i  mengomentari Tafsir Ibnu Katsir, bahwa dia meyakini orang-orang itu pun terbinasakan.</p>
<p><strong>Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari ayat tersebut?</strong></p>
<p>Di dalam ayat tersebut terdapat perintah kepada manusia untuk menentukan sikap, menetapkan pilihan hidupnya.</p>
<p>Di dalam al-Qur’an juga menceritakan tentang orang-orang yang menentukan sikap dan orang-orang yang tidak menentukan sikap. Menentukan sikap adalah menentukan pilihan. Sedangkan pilihan dalam hidup hanya ada dua, yaitu kebenaran al Islam dan kebathilan.</p>
<p>Allah telah mengetengahkan banyak contoh tentang orang yang menentukan sikap, misalnya, para tukang sihirnya Fir’aun (QS. Al Araaf: 103 &#8211; 126). Ketika Fir’aun menentang Nabi Musa Alaihi salam dengan membawa tukang sihir. Para Tukang Sihir berkata, kalau kami menang, apa ganjaran yang kami dapatkan. Maka dijawab Fir’aun, saya akan memberi upah yang besar dan akan dekat dengan kami,  <em>wainnakum laminal muqorrbin.</em></p>
<p>Apa yang terjadi?. Begitu tukang sihir menyaksikan mukjizat yang ada pada Nabi Musa, mereka langsung menyatakan sikap; dan mereka berkata;</p>
<p>&#8220;<em>Kami beriman kepada Rabb semesta alam, Rabb Musa dan Harun</em>&#8220;</p>
<p>Kemudian ketika diancam oleh Fir’aun akan dipotong tangan dan kakinya secara bersilangan, dan disalib, tukang-tukang sihir dengan mantap menentukan sikap mereka dengan gagah. “<em>Lakukan apa yang kamu mau lakukan,</em>” kata tukang-tukang sihir itu tanpa ragu. Jelas, bahwa ketika kita sudah mengambil sikap yang tegas dalam pertarungan antara al-Haq dan bathil ini, maka kita diuji oleh Allah. Jika kita bisa bertahan dalam sikap kita, maka syurga yang akan kita dapatkan, keselamatan dan kemuliaan di dunia dan di akhirat.</p>
<p>Kemudian ketika diancam oleh Fir’aun akan dipotong tangan dan kakinya secara bersilangan, dan disalib, tukang-tukang sihir dengan mantap menentukan sikap mereka dengan gagah. “<em>Lakukan apa yang kamu mau lakukan,</em>” kata tukang-tukang sihir itu tanpa ragu. Jelas, bahwa ketika kita sudah mengambil sikap yang tegas dalam pertarungan antara al-Haq dan bathil ini, maka kita diuji oleh Allah. Jika kita bisa bertahan dalam sikap kita, maka syurga yang akan kita dapatkan, keselamatan dan kemuliaan di dunia dan di akhirat.</p>
<p>Maka tentukanlah sikap, dan katakanlah,</p>
<p>“Katakanlah: &#8220;Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik&#8221;. (QS. Yusuf: 108)</p>
<p><strong>Akibat Tidak Menetapkan Pilihan</strong></p>
<p>Di tengah-tengah masyarakat kita, Alhamdulillah sudah semakin semarak orang yang berusaha untuk membangkitkan agama Islam, berusaha melaksanakan perintah Islam. Namun pada waktu yang sama, banyak juga orang-orang yang benci kepada Islam, berusaha memerangi Islam, mereka terus berusaha juga menghancurkan Islam dengan dahsyat. Sebagai seorang muslim sudah selayaknya kita harus menentukan sikap. Apakah kita memilih Al Haq (kebenaran, Al Mustakim) atau Al bathil (kesesatan, Ad-Dhalliin). Sebab kalau hanya jadi penonton dan tidak menentukan sikap, maka itulah oleh Allah dimaksud dalam ayat ini. Yakni kelompok orang yang diam saja. Diam tapi mendapatkan murka Allah.</p>
<p>Pada kisah ashabus sabt tadi, ketika yang membangkang terus membangkang, semakin membandel, akhirnya azab itu turun. Kalau adzab Allah sudah turun, maka akan terkena semua.</p>
<p>“<em>Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya.</em>” (QS. Al Anfal: 25)</p>
<p>Inilah yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, ketika melihat kemungkaran mereka diam seribu bahasa. Bahkan yang lebih parah, di antara mereka kalau ada yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar, dianggap berusaha menggangu ketertiban dan kenyamanan orang lain. Mereka dianggap tidak toleran dan sebagainya. Akibatnya, orang pun akan menganggap yang munkar sebagai sesuatu yang ma’ruf. Yang ma’ruf dianggap munkar. Maka, kaum muslimin semua, kita semua punya kewajiban untuk berdakwah menegakkan amar ma’ruf nahii munkar. Jangan berhenti menasehati dan memberi peringatan. Kita dukung saudara kita dan ikut aktif dalam usaha menegakkan kebenaran dan mencegah kemaksiatan pada Alllah SWT. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang diam apalagi menghambat dakwah Islam, jika kita tidak mau tertimpa sebagaimana yang menimpa ashabus sabt.</p>
<p><strong>RENUNGAN… </strong><strong>NAHNU QAUMUN AMALIYUN</strong><strong> </strong></p>
<p>Amal merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari iman. Imam Hasan Al Bashri menegaskan bahwa iman bukanlah angan-angan dan harapan hampa, akan tetapi ia adalah keyakinan yang mantap dalam hati dan dibuktikan dengan amal yang nyata. Bagi para aktivis da’wah amal Islami adalah bukti intima (komitmen) pada da’wah, jama’ah dan harokah. Tidak ada tempat di dalam jama’ah da’wah ini bagi orang-orang yang hanya ingin diakui sebagai anggota secara legal formal, apatah lagi bagi mereka yang sepi beraktivitas (baca: menganggur) bahkan hanya membebani jama’ah.</p>
<p>Kita seharusnya datang ke jama’ah ini untuk memberi dan bukan untuk meminta. Sudah semestinya kita mengurangi beban dan bukan menjadi beban dan bahkan menjadi kewajiban kita memberikan seluruh potensi yang kita miliki untuk da’wah dan bukan mencari keuntungan dari da’wah. Ingatlah, sesungguhnya orientasi kita dalam jama’ah ini adalah orientasi amal dan hanya amallah yang dapat mengangkat derajat kita serta membuat Allah mengakui kita sebagai aktivis da’wah.</p>
<p>Ketahuilah, kewajiban dan tanggung jawab yang harus kita emban ternyata lebih banyak dari waktu yang tersedia dan lebih besar dari potensi yang kita miliki. Oleh karena itu, jangan sampai ada di antara kita yang hanya duduk, terpaku, dan berdiam diri di dalam jama’ah ini karena jama’ah ini bukanlah jama’ah tanpa kerja (baca: pengangguran). Bila hal itu terjadi, maka ia akan membawa dampak negatif kepada jama’ah, sebagai contoh munculnya suasana dan iklim yang tidak sehat yaitu iklim ghibah dan namimah di antara kader yang dapat menghambat perjalanan harokah dan meruntuhkan bangunan jama’ah. Sekaranglah saatnya kita memperbanyak aktivitas dan meningkatkan produktivitas dan tidak ada waktu bagi kita untuk banyak berbicara terlebih berbicara tentang sesuatu yang tidak berguna mengingat masih banyak lahan da’wah yang belum tergarap. Betapa banyak lahan da’wah yang menjadi tanggung jawab kita di kalangan buruh, pekerja, pedagang, petani, nelayan, professional, ibu rumah tangga, remaja, anak jalanan, dll. Sungguh naïf jika ada di antara kita yang tidak memiliki aktivitas, kesibukan atau “pekerjaan” di dalam jama’ah ini. kita harus bekerja lebih banyak untuk umat dari pada untuk diri kita sendiri.</p>
<p>Kita tidak mengenal istilah pengamat da’wah dalam kamus da’wah kita karena yang ada hanyalah aktivis da’wah dan praktisi harakah. Oleh karena itu tidak boleh ada di antara kita yang menjadi pengamat da’wah tapi hendaklah menjadi aktivis dan praktisi harakah.</p>
<p>Daftar Pustaka:</p>
<p>Al Imam Abul Fida Ismail Ibnu Katsir Ad Dimasyqi<em>. Tafsir Ibnu Katsir Juz 9.</em> Sinar Baru Al Gensindo</p>
<p>Lajnah Ilmiah HASMI. 2006. <em>Sebuah Gerakan Kebangkitan</em>. Bogor: HASMI</p>
<p>Syaikh Syafiyurrahman al Mubarakfury. 2010. <em>Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid III</em>. Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir</p>
<p>Tim Kajian Dakwah Al Hikmah. <em>Nahnu Qoumun Amaliyun</em>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhamadilyas.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhamadilyas.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhamadilyas.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhamadilyas.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhamadilyas.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhamadilyas.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhamadilyas.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhamadilyas.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhamadilyas.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhamadilyas.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhamadilyas.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhamadilyas.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhamadilyas.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhamadilyas.wordpress.com/554/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhamadilyas.wordpress.com&amp;blog=8013795&amp;post=554&amp;subd=muhamadilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhamadilyas.wordpress.com/2011/09/11/renungan-dakwah-pelajaran-dari-surat-al-a%e2%80%98raaf-163-166/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/34bf4a3eb1727cb159686244800d4c85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ilyas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Adab Membaca Al Qur’an</title>
		<link>http://muhamadilyas.wordpress.com/2011/08/25/adab-membaca-al-qur%e2%80%99an/</link>
		<comments>http://muhamadilyas.wordpress.com/2011/08/25/adab-membaca-al-qur%e2%80%99an/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Aug 2011 23:56:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ELSUNNAH&#8482;</dc:creator>
				<category><![CDATA[akhlak-adab]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[al quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhamadilyas.wordpress.com/?p=549</guid>
		<description><![CDATA[Al Qur’anul Karim adalah firman Alloh yang tidak mengandung kebatilan sedikitpun. Al Qur’an memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhirat, dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Alloh Ta’ala. Untuk itulah tiada ilmu yang lebih utama dipelajari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhamadilyas.wordpress.com&amp;blog=8013795&amp;post=549&amp;subd=muhamadilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Al Qur’anul Karim adalah firman Alloh yang tidak mengandung kebatilan sedikitpun. Al Qur’an memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhirat, dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Alloh Ta’ala. Untuk itulah tiada ilmu yang lebih utama dipelajari oleh seorang muslim melebihi keutamaan mempelajari Al-Qur’an. Sebagaimana sabda Nabi <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Sebaik-baik kamu adalah orang yg mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”</em> (HR. Bukhari)</p>
<p>Ketika membaca Al-Qur’an, maka seorang muslim perlu memperhatikan adab-adab berikut ini untuk mendapatkan kesempurnaan pahala dalam membaca Al-Qur’an:<span id="more-549"></span></p>
<p><strong>1. Membaca dalam keadaan suci, dengan duduk yang sopan dan tenang.</strong></p>
<p>Dalam membaca Al-Qur’an seseorang dianjurkan dalam keadaan suci. Namun, diperbolehkan apabila dia membaca dalam keadaan terkena najis. Imam Haromain berkata, <em>“Orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan najis, dia tidak dikatakan mengerjakan hal yang makruh, akan tetapi dia meninggalkan sesuatu yang utama.”</em> (<em>At-Tibyan</em>, hal. 58-59)</p>
<p><strong>2. Membacanya dengan pelan (</strong><em><strong>tartil</strong></em><strong>) dan tidak cepat, agar dapat menghayati ayat yang dibaca.</strong></p>
<p>Rosululloh bersabda, <em>“Siapa saja yang membaca Al-Qur’an (khatam) kurang dari tiga hari, berarti dia tidak memahami.”</em> (HR. Ahmad dan para penyusun kitab-kitab Sunan)</p>
<p>Sebagian sahabat membenci pengkhataman Al-Qur’an sehari semalam, dengan dasar hadits di atas. Rosululloh telah memerintahkan Abdullah Ibnu Umar untuk mengkhatam kan Al-Qur’an setiap satu minggu (7 hari) (HR. Bukhori, Muslim). Sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, mereka mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam seminggu.</p>
<p><strong>3. Membaca Al-Qur’an dengan </strong><em><strong>khusyu’</strong></em><strong>, dengan menangis, karena sentuhan pengaruh ayat yang dibaca bisa menyentuh jiwa dan perasaan.</strong></p>
<p>Alloh Ta’ala menjelaskan sebagian dari sifat-sifat hamba-Nya yang shalih, <em>“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.”</em> (QS. Al-Isra’: 109). Namun demikian tidaklah disyariatkan bagi seseorang untuk pura-pura menangis dengan tangisan yang dibuat-buat.</p>
<p><strong>4. Membaguskan suara ketika membacanya.</strong></p>
<p>Sebagaimana sabda Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.”</em> (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim). Di dalam hadits lain dijelaskan, <em>“Tidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan Al-Qur’an.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim). Maksud hadits ini adalah membaca Al-Qur’an dengan susunan bacaan yang jelas dan terang <em>makhroj</em> hurufnya, panjang pendeknya bacaan, tidak sampai keluar dari ketentuan kaidah tajwid. Dan seseorang tidak perlu melenggok-lenggokkan suara di luar kemampuannya.</p>
<p><strong>5. Membaca Al-Qur’an dimulai dengan </strong><em><strong>isti’adzah.</strong></em></p>
<p>Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, <em>“Dan bila kamu akan membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Alloh dari (godaan-godaan) syaithan yang terkutuk.”</em> (QS. An-Nahl: 98)</p>
<p>Membaca Al-Qur’an dengan tidak mengganggu orang yang sedang shalat, dan tidak perlu membacanya dengan suara yang terlalu keras atau di tempat yang banyak orang. Bacalah dengan suara yang lirih secara <em>khusyu’</em>.</p>
<p>Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihiwasallam</em> bersabda, <em>“Ingatlah bahwasanya setiap dari kalian bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh bersuara lebih keras daripada yang lain pada saat membaca (Al-Qur’an).”</em> (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Baihaqi dan Hakim). <em>Wallohu a’lam.</em></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Hudzaifah Yusuf<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhamadilyas.wordpress.com/549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhamadilyas.wordpress.com/549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhamadilyas.wordpress.com/549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhamadilyas.wordpress.com/549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhamadilyas.wordpress.com/549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhamadilyas.wordpress.com/549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhamadilyas.wordpress.com/549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhamadilyas.wordpress.com/549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhamadilyas.wordpress.com/549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhamadilyas.wordpress.com/549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhamadilyas.wordpress.com/549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhamadilyas.wordpress.com/549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhamadilyas.wordpress.com/549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhamadilyas.wordpress.com/549/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhamadilyas.wordpress.com&amp;blog=8013795&amp;post=549&amp;subd=muhamadilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhamadilyas.wordpress.com/2011/08/25/adab-membaca-al-qur%e2%80%99an/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/34bf4a3eb1727cb159686244800d4c85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ilyas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tahajud setelah tarawih</title>
		<link>http://muhamadilyas.wordpress.com/2011/08/23/tahajud-setelah-tarawih/</link>
		<comments>http://muhamadilyas.wordpress.com/2011/08/23/tahajud-setelah-tarawih/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Aug 2011 09:39:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ELSUNNAH&#8482;</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[tahajud]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[witir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhamadilyas.wordpress.com/?p=544</guid>
		<description><![CDATA[Diperbolehkan bagi orang yang sudah melaksanakan shalat tarawih untuk menambah shalat malam dengan shalat tahajud. Hanya saja, kami menyarankan dua hal: Pertama, hendaknya ikut imam sampai selesai, dan jangan pulang sebelum imam melakukan witir. Tujuannya, agar kita mendapatkan keutamaan sebagaimana yang disebutkan dalam hadis berikut, مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhamadilyas.wordpress.com&amp;blog=8013795&amp;post=544&amp;subd=muhamadilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong><a href="http://muhamadilyas.files.wordpress.com/2011/08/g.jpg"><img class="size-medium wp-image-547 alignleft" style="margin:5px;" title="g" src="http://muhamadilyas.files.wordpress.com/2011/08/g.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Diperbolehkan bagi orang yang sudah melaksanakan <a title="Posts tagged with shalat" href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat">shalat</a> tarawih untuk menambah <a title="Posts tagged with shalat" href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat">shalat</a> malam dengan <a title="Posts tagged with shalat" href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat">shalat</a> tahajud. Hanya saja, kami menyarankan dua hal:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, hendaknya ikut imam sampai selesai, dan jangan pulang sebelum imam melakukan witir. Tujuannya, agar kita mendapatkan keutamaan sebagaimana yang disebutkan dalam hadis berikut,</p>
<p align="right"><strong>مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة</strong></p>
<p>“<em>Siapa saja yang ikut shalat tarawih berjemaah bersama imam sampai selesai maka untuknya itu dicatat seperti shalat semalam suntuk</em>.” (H.r. Abu Daud dan Turmudzi; dinilai <em>sahih</em> oleh Al-Albani)</p>
<p><strong>Kedua</strong>, tidak boleh melakukan witir dua kali. Jika sudah witir bersama imam maka ketika tahajud tidak boleh witir lagi. Ini berdasarkan hadis,</p>
<p align="right"><strong>لَا وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ</strong></p>
<p>“<em>Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam</em>.” (H.r. Abu Daud; dinilai <em>sahih</em> oleh Al-Albani)<span id="more-544"></span></p>
<p>Dalam <em>Fatwa Lajnah Daimah</em> (6:45) disebutkan, “Jika Anda shalat tarawih bersama imam maka yang lebih utama adalah melakukan witir bersama imam, agar mendapatkan pahala sempurna, sebagaimana disebutkan dalam hadis, ‘<em>Barang siapa yang ikut shalat tarawih berjemaah bersama imam sampai selesai maka untuknya itu dicatat seperti shalat semalam suntuk</em>.’ (H.r. Abu Daud dan Turmudzi). Jika Anda bangun di akhir malam dan ingin menambah shalat maka silakan shalat sesuai keinginan, namun tanpa witir, karena tidak ada witir dalam semalam.” (Ditanda-tangani oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz, Syekh Abdurrazaq Afifi, Syekh Abdullah Ghadyan, Syekh Shaleh Al-Fauzan, Syekh Abdul Aziz Alu Syekh, dan Syekh Bakr Abu Zaid)</p>
<p><strong>Bagaimana cara mengakhiri tarawih bersama imam?</strong></p>
<p>Ada dua cara:</p>
<ol start="1">
<li>Anda ikut <a title="Posts tagged with shalat witir" href="http://konsultasisyariah.com/tag/shalat-witir">shalat witir</a> bersama imam sampai selesai, dan nanti tidak witir lagi.</li>
<li>Ketika imam salam pada saat shalat witir, Anda berdiri dan menggenapkannya dengan satu rakaat, sehingga Anda belum dianggap melakukan witir. Kemudian, di akhir malam, Anda bisa shalat tahajud dan melakukan witir.</li>
</ol>
<p>Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin mengatakan, “Apabila orang yang hendak shalat tahajud mengikuti imam dalam shalat witir maka hendaknya dia genapkan, dengan dia tambahkan satu rakaat. Ini adalah salah satu cara untuk orang yang hendak tahajud. Dia ikut imam dalam shalat witir dan dia genapkan rakaatnya dengan menambahkan satu rakaat, sehingga shalatnya yang terakhir di malam hari adalah shalat witir …. Dengan demikian, dengan cara ini, dia akan mendapatkan dua amal: mengikuti imam sampai selesai dan dia juga mendapatkan <a title="Posts tagged with sunah" href="http://konsultasisyariah.com/tag/sunah">sunah</a> menjadikan akhir shalat malam dengan shalat witir. Ini adalah satu amal yang baik.” (<em>Syarhul Mumthi’</em>, 4:65–66)</p>
<p><strong>Catatan</strong></p>
<p>Syekh Shaleh Al-Fauzan mengatakan, “Jika ada orang yang shalat tarawih dan shalat witir bersama imam, kemudian dia bangun malam dan melaksanakan tahajud maka itu diperbolehkan, dan dia tidak perlu mengulangi witir, tetapi cukup dengan witir yang dia laksanakan bersama imam …. Jika dia ingin mengakhirkan witir di ujung malam maka itu diperbolehkan, namun dia tidak mendapatkan keutamaan mengikuti imam. Yang paling utama adalah mengikuti imam dan witir bersama imam. Mengingat sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>‘Barang siapa yang ikut shalat tarawih berjamaah bersama imam sampai selesai maka untuknya itu dicatat seperti shalat semalam suntuk</em>.’ Hendaknya dia mengikuti imam, witir bersama imam, dan jangan jadikan ini penghalang untuk bangun di akhir malam dalam rangka tahajud.” (<em>Majmu’ Fatawa Syaikh Shaleh Al-Fauzan</em>, 1:435)</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina </strong><a href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank"><strong>www.Konsultasi Syariah.com</strong></a><strong>)</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhamadilyas.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhamadilyas.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhamadilyas.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhamadilyas.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhamadilyas.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhamadilyas.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhamadilyas.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhamadilyas.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhamadilyas.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhamadilyas.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhamadilyas.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhamadilyas.wordpress.com/544/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhamadilyas.wordpress.com/544/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhamadilyas.wordpress.com/544/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhamadilyas.wordpress.com&amp;blog=8013795&amp;post=544&amp;subd=muhamadilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhamadilyas.wordpress.com/2011/08/23/tahajud-setelah-tarawih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/34bf4a3eb1727cb159686244800d4c85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ilyas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhamadilyas.files.wordpress.com/2011/08/g.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">g</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dakwah adalah Segalanya</title>
		<link>http://muhamadilyas.wordpress.com/2011/08/15/dakwah-adalah-segalanya/</link>
		<comments>http://muhamadilyas.wordpress.com/2011/08/15/dakwah-adalah-segalanya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Aug 2011 04:49:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ELSUNNAH&#8482;</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhamadilyas.wordpress.com/?p=540</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi&#8221; (Al Qashash : 77) Artinya prioritas utama adalah akhirat tetapi jangan sampai melupakan dunia. Lalu apa hubungan antara mencari maisah dan dakwah? Dakwah adalah segalanya. Ini adalah sebagaimana prinsip hidup Rasulullah Shallallahu&#8217;alahi wassalam yg meletakkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhamadilyas.wordpress.com&amp;blog=8013795&amp;post=540&amp;subd=muhamadilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<em>Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi</em>&#8221; (Al Qashash : 77)</p>
<p>Artinya prioritas utama adalah akhirat tetapi jangan sampai melupakan dunia. Lalu apa hubungan antara mencari maisah dan dakwah?</p>
<p>Dakwah adalah segalanya. Ini adalah sebagaimana prinsip hidup Rasulullah Shallallahu&#8217;alahi wassalam yg meletakkan dakwah di atas segalanya. Tentu kita masih ingat di dalam sirah Rasulullah Shallallahu&#8217;alahi wassalam diiming-imingi dengan kekayaan, kedudukan, kekuasaan, dan kehormatan spy Rasulullah Shallallahu&#8217;alahi wassalam menghentikan dakwahnya, lalu apa jawab beliau, beliau dengan tegas bersabda,<span id="more-540"></span></p>
<p>&#8220;<em>Demi Alloh, sekali-kali aku tidak akan meninggalkan dakwahku, seandainya matahari diletakan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, aku bersumpah tidak akan meninggalkan dakwahku…!</em>”</p>
<p>Lalu pertanyaannya adalah apa yang bisa dilakukan oleh kita supaya kita juga bisa menerapkan prinsip hidup Rasulullah bahwa dakwah adalah segalanya, di sisi lain kita disibukkan dengan pekerjaan dlm rangka mencari maisah?</p>
<p>Allah Subhanahu wata&#8217;ala berfirman,</p>
<p>&#8220;<em>Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.</em>&#8221; (At Taubah : 41)</p>
<p>&#8220;<em>Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.</em>&#8221; (At Taubah : 41)</p>
<p>Di zaman modern sekarang ini justru dakwah sangat-sangat dibutuhkan mengingat kerusakan sudah terjadi dimana-mana, kemaksiatan merajalela secara terbuka dan terang-terang, kejahilan ttg diin sudah merebak. Bergabunglah bersama kafilah/jamaah dakwah yang telah berkomitmen dlm berdakwah.</p>
<p>Jadikan setiap gerak kita adalah dalam rangka dakwah, bahkan ketika kita mencari maisah. Lihat bagaimana generasi terbaik umat ini, para shahabat rodhiallahu&#8217;anhum. Merekalah yang patut kita contoh. Di antara meraka ada yang orang kaya, saudagar sukses, pebisnis ulung. Bagaimana sikap mereka. Apa yang mereka perbuat? Mereka adalah orang-orang yang paling semangat dalam berdakwah, mereka tidak dilalai oleh harta mereka, tidak dilalaikan oleh usaha mereka, tidak dilalaikan oleh bisnis mereka. Bahkan harta/usaha/bisnis mereka adalah salah satu dari penopang-penopang dakwah Rasulullah Shallallahu&#8217;alahi wassalam. Dakwah tidaklah gratis, bahkan dana adalah salah satu penopang terbesar dalam dakwah. Maka dakwah jangan dipersempit hanya sekadar ceramah, bahkan infak dalam rangka dakwah ilallah adalah dakwah. Maka sungguh kesempatan besar bagi orang yang berkecukupan maisah, dia bisa berbuat lebih dengan hartanya.</p>
<p>Dan perlu disadari juga bahwasanya Allah Subhanahu wata&#8217;ala dibanyak ayat-ayatnya menyinggung jihad dengan harta dan jiwa yang sering digandengkan disebutkan secara bersamaan. Artinya apa tidak cukup hanya dengan harta, tetapi dengan jiwa kita. Jadi tidak cukup hanya dengan berinfak saja dengan harta kita. Kita lihat bagaimana abu bakar, umar, utsman, abdurrahman bin auf adalah orang2 yang tidak tanggung-tanggung dalam berinfak di jalan dakwah, tetapi tidak hanya itu mereka juga ikut terjun dalam berdakwah bersama-sama dengan Rasulullah. Maka hendaknya juga kita bersikap demikian. Kita yang diberi fisik yang kuat &amp; diberi kesehatan, libatkan diri-diri kita didalam amal dakwah. &#8220;Tapi ana sibuk bekerja?&#8221; Manfaatkan waktu-waktu luang. Misal kita bekerja senin-jumat, manfaatkan hari sabtu dan ahad. Pasti di antara kita ada waktu-waktu luang, manfaatkan semaksimal mungkin dalam amal dakwah. Datang ke kajian-kajian atau halaqoh-halaqoh ilmu, menyebarkan informasi-informasi kajian, brosur, pamflet, mengajak teman ke halaqoh kajian, memberitahu teman ttg radio dakwah, mengajak seorang demi seorang untuk sama-sama meniti shirotulmustaqim. Ini semua adalah dakwah, jadi dakwah tidak hanya identik dengan ceramah. Yang bisa ceramah ya ceramah, yang bisa ngajak ya ngajak orang, yang bisa sms tausiay dan sms info kajian ya sms, yang bisa nyebarin brosur ya nyebarin brosur .Dan inilah berdakwa secara berjamaah, jadi jangan sendiri-sendiri, semua saling bekerja sama dalam berdakwah. akan sangat sulit sekali jika dakwah dilakukan sendiri-sendiri.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhamadilyas.wordpress.com/540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhamadilyas.wordpress.com/540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhamadilyas.wordpress.com/540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhamadilyas.wordpress.com/540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhamadilyas.wordpress.com/540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhamadilyas.wordpress.com/540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhamadilyas.wordpress.com/540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhamadilyas.wordpress.com/540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhamadilyas.wordpress.com/540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhamadilyas.wordpress.com/540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhamadilyas.wordpress.com/540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhamadilyas.wordpress.com/540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhamadilyas.wordpress.com/540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhamadilyas.wordpress.com/540/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhamadilyas.wordpress.com&amp;blog=8013795&amp;post=540&amp;subd=muhamadilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhamadilyas.wordpress.com/2011/08/15/dakwah-adalah-segalanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/34bf4a3eb1727cb159686244800d4c85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ilyas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyingkap kesesatan Ahmadiyah</title>
		<link>http://muhamadilyas.wordpress.com/2011/03/19/menyingkap-kesesatan-ahmadiyah/</link>
		<comments>http://muhamadilyas.wordpress.com/2011/03/19/menyingkap-kesesatan-ahmadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Mar 2011 09:00:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ELSUNNAH&#8482;</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhamadilyas.wordpress.com/?p=536</guid>
		<description><![CDATA[Kasus sekte sesat Ahmadiyah kembali mencuat, bahkan sempat menimbulkan kehebohan, khususnya setelah terjadinya peristiwa Cikeusik, Pandeglang Banten. Dalam ajaran Islam yang telah memiliki doktrin keyakinan yang mapan (taken for granted) dan tidak boleh dilanggar, jelas diyakini bahwa “Ahmadiyah adalah ajaran SESAT danMENYESATKAN, bahkan KAFIR”. Karena bila berkaitan dengan Islam, maka tidak ada lagi alasan “berlindung di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhamadilyas.wordpress.com&amp;blog=8013795&amp;post=536&amp;subd=muhamadilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kasus sekte sesat Ahmadiyah kembali mencuat, bahkan sempat menimbulkan kehebohan, khususnya setelah terjadinya peristiwa Cikeusik, Pandeglang Banten. Dalam ajaran Islam yang telah memiliki doktrin keyakinan yang mapan (<em>taken for granted</em>) dan tidak boleh dilanggar, jelas diyakini bahwa “Ahmadiyah adalah ajaran <strong>SESAT</strong> dan<strong>MENYESATKAN</strong>,<strong> </strong>bahkan<strong> KAFIR</strong>”. Karena bila berkaitan dengan Islam, maka tidak ada lagi alasan “berlindung di balik HAM”, “atas nama kebebasan beragama dan berkeyakinan”, atau klaim palsu lainnya yang melegalkan tindakan “mengobrak-abrik dan mengobok-obok agama”.</p>
<p>Dalam Islam, <strong>sangat</strong> kentara sekali perbedaan antara yang benar (<em>haqq</em>) – yaitu ajaran Islam yang benar lagi murni – dan yang batil – antara lain keyakinan sesat dan ritual tidak benar sekte Ahmadiyah–. Kejelasan keyakinan dan ketegasan sikap ini, bukan berarti kita melegalkan anarkisme dan tindakan brutal. Namun bil hal tersebut sampai terjadi, kemungkinan karena adanya sebagian masyarakat yang telah membuncah kekesalannya dan tidak mampu menahan gejolak amarahnya. Sebab ajaran sesat ini sudah dilarang secara resmi oleh pemerintah, tetapi didiamkan saja tetap beraktifitas, bahkan hingga memperbanyak pengikut dan berlaku seenaknya dalam “mempertontonkan” dan memamerkan kesesatannya.</p>
<p><strong>Ahmadiyah Mengkafirkan Kaum Muslimin</strong></p>
<p>Ahmadiyah mengklaim, bahwa kaum Muslimin yang tidak mengikuti ajaran sesat mereka adalah musuh. Ahmadiyah meyakini bahwa seorang Muslim yang tidak percaya kepada klaim Ghulam Ahmad sebagai nabi dan rosul, maka ia itu adalah kafir karena dalam “wahyu setan” <em>Tadzkirah</em> hal. 402 tertulis “Musuh akan berkata, kamu bukanlah orang yang diutus (oleh Alloh)” (<em>saya-quulu al-‘aduwwu lasta mursalan</em>).</p>
<p>Sedangkan pada hal. 749 dinya-takan, “Kamu (Mirza) adalah imam yang diberkahi dan laknat Alloh atas orang yang ingkar” (<em>Anta imaamun mubaraarakun, la’natullahi ‘alaa al-ladzii kafara</em>).</p>
<p>Khalifah sesat Ahmadiyah, Mirza Bashirudin Mahmud Ahmad berkata, “Kami dengan bersungguh-sungguh me-ngatakan bahwa orang tidak dapat menjumpai Alloh di luar Ahmadiyah.” (<em>Da’watul Amir</em> hal. 377)</p>
<p>Vonis pengkafiran terhadap kaum Muslimin lainnya menyatakan, “Barang-siapa mengingkari Ghulam Ahmad sebagai nabi dan rosul Alloh, maka ia telah kafir kepada nash al-Qur’an. Kami mengka-firkan kaum Muslimin karena mereka membeda-bedakan para rosul, memper-cayai sebagian dan meng-ingkari sebagian lainnya. Jadi, mereka itu kaum kafir!” (<em>al-Fazal</em> hal. 5, Juni 1922)</p>
<p><em>Masih ragukah kita semua dengan kekafiran Ahmadiyah?</em></p>
<p><strong>Ahmadiyah Antek Penjajah Inggr</strong><strong>is</strong></p>
<p>Berdasarkan catatan sejarah yang tidak dapat dimungkiri kebenarannya karena didukung oleh testimoni “jujur” mereka sendiri, juga telah diketahui oleh umumnya rakyat India dan Pa-kistan, bahwa Ahmadiyah dibentuk, di-<em>support</em>,  dibiayai, dilindungi dan diayomi pemerintahan kolonial Inggris, penjajah rakyat, negara serta agama.</p>
<p>Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiyani dengan bangga memberikan testimoni, “Mayoritas orang yang menjadi peng-ikutku adalah para pegawai sipil pemerintah Inggris golongan eselon tinggi, pejabat teras dan para pengusaha miliarder, termasuk advokat (penga-cara), pelajar yang silau dengan kema-juan Inggris dan para ulama yang men-jadi antek pemerintah di masa lalu atau yang masih aktif menjadi “kacung” yang melayani mereka, sehingga memperoleh keridhoannya… Saya dan para ulama yang menjadi pengikutku bertugas mempropagandakan kebaikan-kebaikan pemerintah kolonial Inggris agar diterima di hati banyak orang.” (<em>‘Ariidhah Ghu-laam al-Qaadiyanii</em> 7/18)</p>
<p>Mirza Ghulam Ahmad sendiri (1839-1908 M), selain dikenal sebagai orang yang berperawakan kerempeng, sering sakit-sakitan dan pecandu narkotik, juga dikenal memiliki kaitan erat dengan sebuah keluarga yang terkenal sebagai “pengkhianat” terhadap agama dan negaranya.</p>
<p><em>Belum yakinkah kita semua dengan kedustaan Ahmadiyah?</em></p>
<p><strong>Ringkasan Kesesatan Ahmadiyah</strong></p>
<p>Dari beragam kesesatan Ahmadiyah, antara lain yang telah diungkap oleh Komite Fiqih Islam Internasional (<em>Majma</em><em>’ al-Fiqh al-Islami</em>) adalah:</p>
<ul>
<li>Meyakini bahwa Alloh  seperti manusia, melakukan puasa, sholat, tidur, bangun, menulis dan bersalah, bahkan melakukan hubungan seksual.</li>
<li>Meyakini bahwa tuhan mereka ber-kebangsaan Inggris, yang berbicara kepada Mirza Ghulam Ahmad dengan bahasa Inggris.</li>
<li>Meyakini bahwa kenabian belum selesai dan masih akan terus ada.</li>
<li>Meyakini bahwa malaikat Jibril  turun kepada Mirza Ghulam Ahmad dan memberinya wahyu.</li>
<li>Meyakini bahwa tidak ada al-Qur’an kecuali yang dibawa oleh Mirza Ghulam Ahmad.</li>
<li>Meyakini bahwa kitab suci mereka diturunkan dengan nama “<em>al-Kitaab al-Mubiin</em>”, dan itu bukan al-Qur’an.</li>
<li>Meyakini bahwa kota Qodiyan seperti Mekkah dan Madinah, bahkan kota itu lebih suci dari keduanya dan menjadikan kota Qodiyan sebagai tempat berhaji.</li>
<li>Meyakini bahwa perintah jihad tidak pernah ada dan mereka fanatik buta dengan keinginan penjajah Inggris.</li>
<li>Meyakini bahwa semua kaum Mus-limin adalah kafir, kecuali mereka yang masuk dalam Ahmadiyah.</li>
<li>Meyakini bahwa hukum <em>khamar</em> (miras), opium, narkotika dan zat adiktif lainnya tidak haram.</li>
<li>Meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah anak tuhan.</li>
</ul>
<p>Kesesatan ini adalah yang tertuang dalam buku-buku, jurnal dan pub-likasi mereka sendiri, walaupun se-karang pengikut Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) sendiri “berbohong” mengelaknya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Fatwa Tentang Ahmadiyah</strong></p>
<p>Berikut beberapa fatwa yang mem-vonis kekafiran Ahmadiyah:</p>
<ul>
<li><strong>Fatwa MUI</strong></li>
</ul>
<p>Pada tanggal 4 Maret 1984, Sidang Paripurna Lengkap Rapat Kerja Nasional Majelis Ulama Indonesia memutuskan bahwa Jemaat Ahmadiyah di wilayah negara RI yang berstatus sebagai badan hukum berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehakiman RI No. JA/23/13 tanggal 13-3-1953 (tambahan Berita Negara tanggal 31-3-1953 No.26 ) bagi umat Islam menimbulkan:</p>
<p>Keresahan karena isi ajarannya ber-tentangan dengan ajaran agama Islam.</p>
<p>Perpecahan khususnya dalam hal <em>‘ubudiyah</em> (shalat), bidang <em>Munakahat</em> (pernikahan) dan lainnya.</p>
<p>Bahaya bagi ketertiban dan keamanan negara.</p>
<p>Maka dengan alasan-alasan tersebut dimohon kepada pihak yang berwenang untuk meninjau kembali Surat Keputusan Menteri Kehakiman RI tersebut. Me-nyerukan untuk srmua</p>
<p>Menyerukan kepada:</p>
<p>Agar Majelis Ulama Indonesia, Ma-jelis Ulama Daerah Tingkat I, Daerah Tingkat II, para Ulama dan Dai di seluruh Indonesia menjelaskan kepada masyarakat tentang sesatnya Jemaat Ahmadiyah Qadiyani yang berada di luar Islam.</p>
<p>Bagi mereka yang terlanjur mengikuti Jemaat Ahmadiyah Qadiyani supaya segera kembali kepada ajaran Islam yang benar.</p>
<p>Kepada seluruh umat Islam supaya mempertinggi kewaspadaannya, sehingga tidak terpengaruh dengan paham yang sesat itu.</p>
<p>Majelis Ulama Indonesia dan Or-ganisasi Keagamaan telah melakukan kajian tentang Ahmadiyah yang hasilnya antara lain dituangkan dalam bentuk Rekomendasi dan Fatwa sebagai berikut:</p>
<p>Majelis Ulama Indonesia dalam MUNAS II tahun 1980 menyatakan bahwa <strong>Ahmadiyah adalah jamaah di luar Islam, sesat dan menyesatkan</strong>. (Keputusan MUNAS II MUI se Indo-nesia No. 05/Kep/Munas/ II/MUI/1980).</p>
<p>Kemudian tentang keluarnya fatwa tentang penetapan kesesatan Ahmadiyah dan pelarangan penyebaran pahamnya. MUNAS MUI VII No. II Tanggal 26-29 Juli 2005 hingga keluarnya SKB tiga menteri No. 199 tahun 2008.</p>
<ul>
<li><strong>Fatwa Lainnya</strong></li>
</ul>
<p>Yaitu fatwa yang memvonis Ahma-diyah sebagai  sekte sesat menyesatkan dan sebagai kelompok kafir minoritas Non Muslim yang dikeluarkan oleh pemerintah Pakistan, Arab Saudi, Malaysia, Brunei Darussalam dan lainnya, serta dari berbagai institusi internasio-nal seperti, Komite Fiqih Islam, (<em>Majmu</em><em>’ al-Fiqh al-Islam</em>) dan Persaudaraan Dunia Islam (<em>Rabithah al-‘Alam al-Islami</em>).</p>
<p><em>Belum yakinkah kita semua dengan kemurtadan Ahmadiyah?</em></p>
<p><strong>Karena itu….</strong></p>
<p>Acuh tak acuh, diam seribu bahasa dan mendiamkan ajaran sesat Ahmadiyah sama saja dengan acuh dan mendiamkan kezhaliman dan kemunkaran merajalela serta penodaan terhadap Islam semakin marak dipentaskan.</p>
<p>Seluruh kaum Muslimin wajib wajib ikut serta menghadang laju ajaran kekafiran yang mendompleng agama Islam dan paham sesat yang membonceng lokomotif Islam.</p>
<p>Masyarakat Muslim dan juga non Muslim harus mendapatkan informasi gamblang bahwa ajaran Ahmadiyah bukan ajaran Islam.</p>
<p>Sekali lagi, inilah keyakinan paham dan ketegasan sikap kita, namun <strong>tidak harus</strong> anarkis, dan <strong>harus tidak </strong>anarkis<em> kan</em>??</p>
<p>Diambil dari: Buletin Dakwah Hasmi</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhamadilyas.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhamadilyas.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhamadilyas.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhamadilyas.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhamadilyas.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhamadilyas.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhamadilyas.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhamadilyas.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhamadilyas.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhamadilyas.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhamadilyas.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhamadilyas.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhamadilyas.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhamadilyas.wordpress.com/536/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhamadilyas.wordpress.com&amp;blog=8013795&amp;post=536&amp;subd=muhamadilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhamadilyas.wordpress.com/2011/03/19/menyingkap-kesesatan-ahmadiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/34bf4a3eb1727cb159686244800d4c85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ilyas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apa yang menghalangimu untuk menikah Akhi Ukhti?</title>
		<link>http://muhamadilyas.wordpress.com/2010/10/01/apa-yang-menghalangimu-untuk-menikah-akhi-ukhti/</link>
		<comments>http://muhamadilyas.wordpress.com/2010/10/01/apa-yang-menghalangimu-untuk-menikah-akhi-ukhti/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Oct 2010 01:34:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ELSUNNAH&#8482;</dc:creator>
				<category><![CDATA[akhlak-adab]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Menata Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[akhi]]></category>
		<category><![CDATA[menikah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[pemudi]]></category>
		<category><![CDATA[taaruf]]></category>
		<category><![CDATA[ukhti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhamadilyas.wordpress.com/?p=523</guid>
		<description><![CDATA[Rosulullah pernah berkata kepada Ali ra: Hai Ali, ada 3 perkara yang jangan kamu tunda-tunda pelaksanaannya, yaitu shalat apabila tiba waktunya, jenazah apabila sudah siap penguburannya, dan wanita bila menemukan pria sepadan yang meminangnya (HR. Ahmad). Kalau kita tanya seseorang pemuda/pemudi, Mengapa belum menikah? Maka jawabanya antara lain: 1. Masih kuliah/menuntut ilmu. Dikhawatirkan bila menikah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhamadilyas.wordpress.com&amp;blog=8013795&amp;post=523&amp;subd=muhamadilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rosulullah pernah berkata kepada Ali ra: Hai Ali, ada 3 perkara yang jangan kamu tunda-tunda pelaksanaannya, yaitu shalat apabila tiba waktunya, jenazah apabila sudah siap penguburannya, dan wanita bila menemukan pria sepadan yang meminangnya (HR. Ahmad).</p>
<p>Kalau kita tanya seseorang pemuda/pemudi, Mengapa belum menikah? Maka jawabanya antara lain:<span id="more-523"></span></p>
<p><strong>1. Masih kuliah/menuntut ilmu.</strong></p>
<p>Dikhawatirkan bila menikah akan mempengaruhi prestasi belajar dan mempengaruhi persiapan masa depan. Hal ini sesungguhnya tergantung dari manajemen waktu, waktu yang biasanya dipakai untuk hura-hura setelah waktu kuliah, diganti dengan mencari nafkah atau bercengkrama dengan keluarga.</p>
<p>Disisi lain, bisa menghemat sewa kamar (kost-kost an), dapat saling membantu mengerjakan tugas (kalau satu bidang studi) atau dapat memperluas wawasan diskusi interdisipliner.</p>
<p><strong>2. Bila menikah akan terkekang</strong></p>
<p>Tidak bisa bebas lagi, tidak bisa kongkow-kongkow di mal setelah pulang kuliah atau kerja, bertambah beban tanggung jawab untuk memberi nafkah istri dan anak. Sedangkan Rosul bersabda:</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Bukan golonganku orang yang merasa khawatir akan terkungkung hidupnya karena menikah kemudian ia tidak menikah&#8221; (HR Thabrani)</em>.</p></blockquote>
<p><strong>3. Belum siap dalam hal materi/rezeki</strong></p>
<p>Banyak yang beranggapan kalau mau menikah harus siap materi, yang berarti harus punya jabatan yang mapan, rumah minimal BTN, kendaraan dll, sehingga bila belum terpenuhi semua itu, takut untuk &#8220;maju&#8221;. Sedangkan Allah menjamin akan memberikan rizki bagi yang menikah seperti dalam firmanNYA:</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.</em> &#8220;(QS. 24:32).</p></blockquote>
<p>Rasulullah SAW bersabda :</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Carilah oleh kalian rezeki dalam pernikahan dalam kehidupan (berkeluarga).</em>&#8221; (HR Imam Ailami dalam musnad Al Firdaus).</p></blockquote>
<p><strong>4. Tidak ada/belum ada jodoh</strong></p>
<p>Dibawah ini adalah pesan Rosul SAW: Imam Thabrani meriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa menikahi wanita karena kehormatannya (jabatan), maka Allah SWT hanya akan menambah kehinaan; barang siapa menikah karena hartanya, maka Allah tidak akan menambah kecuali kefakiran; barang siapa menikahi wanita karena hasab (kemuliaannya), maka Allah hanya akan menambah kerendahan. Dan barang siapa yang menikahi wanita karena ingin menutupi (kehormatan) matanya, membentengi farji (kemaluan) nya, dan mempererat silaturahmi, maka Allah SWT akan memberi barakah-Nya kepada suami-istri tsb&#8221;.</p>
<p>Imam Abu Daud &amp; At Tirmidzi meriwayatkan,bahwa Rasulullah SAW bersabda :</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Tetapi nikahilah wanita itu karena agamanya. Sesungguhnya budak wanita yang hitam lagi cacat, tetapi taat beragama adalah lebih baik dari pada wanita kaya &amp; cantik tapi tidak taat beragama)</em>&#8220;.</p></blockquote>
<p>Bukan berarti Rasulullah SAW mengabaikan penampilan fisik dari pasangan kita, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Kawinilah wanita yang subur rahimnya dan pecinta </em>&#8221; (HR Abu Daud, An Nasai &amp; Al Hakim).</p></blockquote>
<p>Tiga kunci kebahagiaan suami adalah: Istri yang solehah: yang jika dipandang membuat semakin sayang, jika kamu pergi membuat tenang karena bisa menjaga kehormatannya dan taat pada suami.</p>
<p>Mungkin masih ada alasan lainya, yang tidak akan dibahas disini misalnya: Karena kakak (apalagi wanita) belum menika.  Karena orang tua terlalu selektif memilih calon mantu, dll.</p>
<h2><strong>Kemuliaan menikah:</strong></h2>
<p>Barang siapa menggembirakan hati istri, (maka) seakan-akan menangis  takut kepada Allah. Barang siapa menangis takut kepada Allah, maka Allah  mengharamkan tubuhnya dari neraka. Sesungguhnya ketika suami istri  saling memperhatikan, maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan  penuh rahmat.</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Manakala suami merengkuh telapak tangan istri  (diremas-remas), maka berguguranlah dosa-dosa suami-istri itu dari  sela-sela jarinya</em>.&#8221; HR Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi’ dari Abu Sa’id  Al-Khudzri r.a.)</p></blockquote>
<p>Juga dapat ditambahkan, bahwa Islam memberi nilai yang  tinggi bagi siapa yang telah menikah, dengan menikah berarti seseorang  telah melaksanakan SEPARUH dari agama Islam!, tinggal orang tsb  berhati-hati melaksanakan yang separuhnya lagi agar tidak sesat.</p>
<p>Rosul SAW bersabda:</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Barang  siapa menikah, maka dia telah menguasai separuh agamanya, karena itu  hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi</em>&#8221; (HR Al Hakim).</p></blockquote>
<p>Kehinaan melajang/membujang:</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Orang  yang paling buruk diantara kalian ialah yang melajang (membujang)dan  seburuk-buruk mayat (diantara) kalian ialah yang melajang (membujang)&#8221;</em> HR Imam, diriwayatkan juga oleh Abu Ya’la dari Athiyyah bin Yasar).</p></blockquote>
<h2><strong>Manfaat menikah di usia muda:</strong></h2>
<ul>
<li>Menjaga kesucian fajr (kemaluan) dari perzinaan serta menjaga pandangan mata. (QS 24: 30-31).</li>
<li>Dapat melahirkan perasaan tentram (sakinah), cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah) dalam hati. (QS 30:21).</li>
<li>Segera mendapatkan keturunan, dimana anak akan menjadi Qurrata A’yunin penyejuk mata, penyenang hati) (QS 25:74) Karena usia yang baik untuk melahirkan bagi wanita antara 20-30 tahun, diatas umur tsb akan beresiko baik bagi ibu maupun sang baby.</li>
<li>Memperbanyak ummat Islam. Seperti yang dipesankan Rosul, beliau akan membanggakan jumlah ummatnya yang banyak nanti di akhirat.</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhamadilyas.wordpress.com/523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhamadilyas.wordpress.com/523/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhamadilyas.wordpress.com/523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhamadilyas.wordpress.com/523/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhamadilyas.wordpress.com/523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhamadilyas.wordpress.com/523/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhamadilyas.wordpress.com/523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhamadilyas.wordpress.com/523/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhamadilyas.wordpress.com/523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhamadilyas.wordpress.com/523/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhamadilyas.wordpress.com/523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhamadilyas.wordpress.com/523/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhamadilyas.wordpress.com/523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhamadilyas.wordpress.com/523/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhamadilyas.wordpress.com&amp;blog=8013795&amp;post=523&amp;subd=muhamadilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhamadilyas.wordpress.com/2010/10/01/apa-yang-menghalangimu-untuk-menikah-akhi-ukhti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/34bf4a3eb1727cb159686244800d4c85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ilyas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menikah atau Studi</title>
		<link>http://muhamadilyas.wordpress.com/2010/09/29/menikah-atau-studi/</link>
		<comments>http://muhamadilyas.wordpress.com/2010/09/29/menikah-atau-studi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Sep 2010 08:58:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ELSUNNAH&#8482;</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[studi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhamadilyas.wordpress.com/?p=518</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Pertanyaan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Ada suatu tradisi yang membudaya, yaitu perempuan atau orang tuanya menolak lamaran orang yang melamarnya karena alasan ingin meyelesaikan sekolahnya di SMU atau Perguruan Tinggi, atau bahkan karena anak (perempuan) ingin belajar beberapa tahun lagi. Bagaimana hukum masalah ini, apa nasehat Syaikh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhamadilyas.wordpress.com&amp;blog=8013795&amp;post=518&amp;subd=muhamadilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --><strong>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin</strong></p>
<p>Pertanyaan.<br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Ada suatu tradisi yang membudaya, yaitu perempuan atau orang tuanya menolak lamaran orang yang melamarnya karena alasan ingin meyelesaikan sekolahnya di SMU atau Perguruan Tinggi, atau bahkan karena anak (perempuan) ingin belajar beberapa tahun lagi. Bagaimana hukum masalah ini, apa nasehat Syaikh kepada orang-orang yang melakukan hal seperti itu, yang kadang-kadang anak perempuan itu sampai berusia 30 tahun belum menikah.</p>
<p>Jawaban.<br />
Hukumnya adalah bahwa hal seperti itu <strong>bertentangan</strong> dengan perintah Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam , sebab beliau bersabda.<span id="more-518"></span></p>
<p>&#8220;Artinya : Apabila datang (melamar) kepada kamu lelaki yang kamu ridhai akhlak dan (komitmennya kepada) agamanya, maka kawinkanlah ia (dengan putrimu).</p>
<p>&#8220;Artinya : Wahai sekalian pemuda, barangsiapa diantara kamu yang mempunyai kemampuan, maka menikahlah, karena menikah itu lebih dapat menahan  pandangan mata dan lebih menjaga kehormatan diri&#8221;</p>
<p>Tidak mau menikah itu berarti menyia-nyiakan maslahat pernikahan. Maka nasehat saya kepada saudara-saudaraku kaum Muslimin, terutama mereka yang menjadi wali bagi putri-putrinya dan saudari-saudariku kaum Muslimat, hendaklah tidak menolak nikah (perkawinan) dengan alasan ingin menyelesaikan studi atau ingin mengajar.</p>
<p>Perempuan bisa saja minta syarat kepada calon suami, seperti mau dinikahi tetapi dengan syarat tetap diperbolehkan belajar (meneruskan studi) hingga selesai, demikian pula (kalau sebagai guru) mau dinikahi dengan syarat tetap menjadi guru sampai satu atau dua tahun, selagi belum sibuk dengan anak-anaknya. Yang  demikian itu boleh-boleh saja, akan tetapi adanya perempuan yang mempelajari ilmu pengetahuan di Perguruan Tinggi yang tidak kita butuhkan adalah merupakan masalah yang masih perlu dikaji ulang.</p>
<p>Menurut pendapat saya bahwa apabila perempuan telah tamat Tingkat Dasar (SD) dan mampu membaca dan menulis dengannya ia dapat membaca Al-Qur&#8217;an dan tafsirnya, dapat membaca hadits dan penjelasannya (syarahnya), maka hal itu sudah cukup, kecuali kalau untuk mendalami suatu disiplin ilmu yang memang dibutuhkan oleh ummat, seperti kedokteran (kebidanan, -pent-) dan lainnya, apabila di dalam studinya tidak terdapat sesuatu yang terlarang, seperti ikhtilat (campur baur dengan laki-laki) atau hal lainnya.</p>
<p>[ As'illah Muhimmah Ajaba 'Anha Syaikh Ibnu Utsaimin, hal 26-27]</p>
<p>[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, hal 398-399 Darul Haq]</p>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --><strong>Utamakan Menikah </strong></p>
<div id="penulis">
<p>Syaikh Ibnu Baz</p>
</div>
<p><strong>Pertanyaan: </strong><br />
<em>Ada suatu kebiasaan yang sudah menyebar, yaitu adanya gadis-gadis remaja atau orang tuanya menolak orang melamarnya, dengan alasan masih hendak menyelesaikan studinya di SMU atau di Perguruan Tinggi, atau sampai karena untuk mengajar dalam beberapa tahun. Apa hukumnya? Apa nasehat Syaikh bagi orang-orang yang melakukannya, bahkan ada wanita yang sudah mencapai usia 30 tahun atau lebih belum menikah?</em></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Nasehat saya kepada semua pemuda dan pemudi agar segera menikah jika ada kemudahan, karena Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah bersabda,</p>
<div id="arabic">
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:DejaVu Sans;">يَا 	مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ 	مِنْكُمُ الْبَاءةَ فَلْيَتَزَوَّجْ 	فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ 	لِلْفَرْجِ</span>. <span style="font-family:DejaVu Sans;">وَمَنْ 	لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ 	فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ </span></p>
</div>
<p><em>&#8220;Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mampunyai kesanggupan, maka menikahlah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan mata dan lebih memelihara kesucian farji; dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa dapat men-jadi perisai baginya.&#8221; </em>(Muttafaq &#8216;Alaih).</p>
<p>Sabda beliau juga,</p>
<div id="Section1">
<p style="text-align:right;"><a name="arabic"></a><span style="font-family:DejaVu Sans;">إِذَا 	خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ 	دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوْهُ 	إِلاَّ تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ 	فِي اْلأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ </span></p>
</div>
<p><em>&#8220;Apabila seseorang yang kamu ridhai agama dan akhlaknya datang kepadamu untuk melamar, maka kawinkahlah ia (dengan puterimu), jika tidak, niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi ini.&#8221; </em>(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dengan sanad hasan).</p>
<p>Sabda beliau lagi,</p>
<div id="Section2">
<p style="text-align:right;"><a name="arabic1"></a><span style="font-family:DejaVu Sans;">تَزَوَّجُوا 	الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ، فَإِنِّي 	مُكَاثِرٌ بِكُمُ اْلأُمَمَ يَوْمَ 	الْقِيَامَةِ </span></p>
</div>
<p><em>&#8220;Kawinilah wanita-wanita yang penuh kasih-sayang lagi subur (banyak anak), karena sesungguhnya aku akan menyaingi ummat-ummat yang lain dengan jumlah kalian pada hari kiamat kelak.&#8221;</em></p>
<p>Menikah juga banyak mengandung maslahat yang sebagiannya telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam , seperti terpalingnya pandangan mata (dari pandangan yang tidak halal), menjaga kesucian kehormatan, memperbanyak jumlah ummat Islam serta selamat dari kerusakan besar dan akibat buruk yang membinasakan.</p>
<p>Semoga Allah memberi taufiqNya kepada segenap kaum Muslimin menuju kemaslahatan urusan agama dan dunia mereka, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat.</p>
<p><strong>Rujukan:</strong><br />
Fatwa Syaikh Bin Baz di dalam Majalah al-Da&#8217;wah, edisi: 117.<br />
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, penerbit Darul Haq</p>
<p>﻿﻿﻿</p>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhamadilyas.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhamadilyas.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhamadilyas.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhamadilyas.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhamadilyas.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhamadilyas.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhamadilyas.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhamadilyas.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhamadilyas.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhamadilyas.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhamadilyas.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhamadilyas.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhamadilyas.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhamadilyas.wordpress.com/518/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhamadilyas.wordpress.com&amp;blog=8013795&amp;post=518&amp;subd=muhamadilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhamadilyas.wordpress.com/2010/09/29/menikah-atau-studi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/34bf4a3eb1727cb159686244800d4c85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ilyas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syarat Diterimanya Amal</title>
		<link>http://muhamadilyas.wordpress.com/2010/09/29/syarat-diterimanya-amal/</link>
		<comments>http://muhamadilyas.wordpress.com/2010/09/29/syarat-diterimanya-amal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Sep 2010 01:05:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ELSUNNAH&#8482;</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[amal]]></category>
		<category><![CDATA[amal sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ittiba]]></category>
		<category><![CDATA[mutaba'ah]]></category>
		<category><![CDATA[sholeh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhamadilyas.wordpress.com/?p=515</guid>
		<description><![CDATA[Ibadah yang diterima di sisi Allah–Subhānahu wa Ta’ālā–harusterpe-nuhi dua syarat, yaitu: niat yangikhlash dan kesesuaian dengan syari’at. Sering diungkapkan dengan itilah al-ikhlash dan al-mutaba’ah. Ketika Fudha’il bin `Iyad –Rahimahullah– membaca ayat: “(Dialah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.&#8230;.” [QS. al-Mulk (67): 2] Maka, beliau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhamadilyas.wordpress.com&amp;blog=8013795&amp;post=515&amp;subd=muhamadilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><strong>Ibadah 	yang diterima di sisi Allah</strong></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><em><strong>–Sub</strong></em></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><em><span style="text-decoration:underline;"><strong>h</strong></span></em></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><em><strong>ānahu 	wa Ta’ālā–</strong></em></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><strong>harus</strong></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><strong>terpe-</strong></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><strong>nuhi 	dua syarat, yaitu:  niat yang</strong></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><strong>ikhlash </strong></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><strong>dan 	kesesuaian</strong></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><strong> dengan</strong></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><strong> syari’at.</strong></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><strong> Sering diungkapkan dengan itilah </strong></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><em><strong>al-ikhlash</strong></em></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><strong> dan </strong></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><em><strong>al-mutaba’ah</strong></em></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><strong>.</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;">Ketika Fudha’il bin `Iyad</span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"> </span></span><span style="font-family:Book Antiqua,serif;"><em>–Ra</em></span><span style="font-family:Book Antiqua,serif;"><em><span style="text-decoration:underline;">h</span></em></span><span style="font-family:Book Antiqua,serif;"><em>imahullah– </em></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;">membaca ayat:</span></span></p>
<p>“<span style="font-family:Courier New,monospace;"><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><em>(Dialah) Yang menjadikan mati dan hidup, </em></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><em>supaya Dia menguji kalian</em></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><em>,</em></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><em> siapa</em></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><em> di antara kalian yang lebih baik amalnya</em></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><strong>.</strong></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;">&#8230;</span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><em>.”</em></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><strong> </strong></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:xx-small;"><strong>[QS. al-Mulk (67): 2]</strong></span></span></span></p>
<p><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;">Maka,</span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"> beliau berkata:</span></span></p>
<p><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:small;">( </span></span><span style="font-family:Simplified Arabic;"><span style="font-size:small;">أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ </span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:small;">)</span></span></p>
<p>“<span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;">(</span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><em>Yang lebih baik amalnya) yaitu yang paling ikhlash (murni) dan shawab (tepat).</em></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;">”</span></span></p>
<p lang="id-ID"><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;">Kemudian para sahabat beliau bertanya:</span></span></p>
<p><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:small;">( </span></span><span style="font-family:Simplified Arabic;"><span style="font-size:small;">يَا أَبَا عَلِيِّ، مَا أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ</span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:small;">! )</span></span></p>
<p>“<span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><em>Wahai Abu Ali, apakah</em></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><em> yang dimaksud dengan yang paling ikhlash dan</em></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><em> shawab itu</em></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;">?”</span></span></p>
<p><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;">Beliau menjawab:</span></span></p>
<p><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:small;">( </span></span><span style="font-family:Simplified Arabic;"><span style="font-size:small;">إِذَا كَانَ الْعَمَلُ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ، حَتَّى يَكُوْنَ خَالِصًا صَوَابًا، وَالْخَالِصُ إَذَا كَانَ للهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالصَّوَابُ إَذَا كَانَ عَلَى السُّنَّةِ </span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:small;">)</span></span></p>
<p>“<span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><em>Apabila sebuah amal khalis</em></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><em>, tetapi tidak shawab, niscaya tidak akan diterima.</em></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><em> Apabila sebuah amal shawab, tetapi tidak khalis, niscaya tidak diterima hingga </em></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><em>amal tersebut khalis dan shawab</em></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><em>. Khalis berarti amal tersebut karena Allah semata.</em></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><em> Sedangkan shawab berarti amal tersebut berdasarkan sunnah</em></span></span><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;">.”</span></span><sup><span style="font-family:Palatino Linotype,serif;"><span style="font-size:x-small;"><a name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a></span></span></sup></p>
<div id="sdfootnote1">
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc">1</a><span style="font-family:Bookman Old Style,serif;"><span style="font-size:xx-small;"> </span></span><span style="font-family:Bookman Old Style,serif;"><span style="font-size:xx-small;"><em><strong>Hilyah 	al-Awliya’</strong></em></span></span><span style="font-family:Bookman Old Style,serif;"><span style="font-size:xx-small;"> 8/95, </span></span><span style="font-family:Bookman Old Style,serif;"><span style="font-size:xx-small;"><em><strong>al-Bidayah 	wa an-Nihayah</strong></em></span></span><span style="font-family:Bookman Old Style,serif;"><span style="font-size:xx-small;"> 10/199 dan </span></span><span style="font-family:Bookman Old Style,serif;"><span style="font-size:xx-small;"><em><strong>Madarij 	as-Salikin</strong></em></span></span><span style="font-family:Bookman Old Style,serif;"><span style="font-size:xx-small;"> 2/89.</span></span></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhamadilyas.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhamadilyas.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhamadilyas.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhamadilyas.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhamadilyas.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhamadilyas.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhamadilyas.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhamadilyas.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhamadilyas.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhamadilyas.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhamadilyas.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhamadilyas.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhamadilyas.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhamadilyas.wordpress.com/515/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhamadilyas.wordpress.com&amp;blog=8013795&amp;post=515&amp;subd=muhamadilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhamadilyas.wordpress.com/2010/09/29/syarat-diterimanya-amal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/34bf4a3eb1727cb159686244800d4c85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ilyas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Cadar: Kesimpulan Antara 2 Pendapat Ulama (5)</title>
		<link>http://muhamadilyas.wordpress.com/2010/09/28/hukum-cadar-kesimpulan-antara-2-pendapat-ulama-5/</link>
		<comments>http://muhamadilyas.wordpress.com/2010/09/28/hukum-cadar-kesimpulan-antara-2-pendapat-ulama-5/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Sep 2010 13:53:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ELSUNNAH&#8482;</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[cadar]]></category>
		<category><![CDATA[hijab]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhamadilyas.wordpress.com/?p=509</guid>
		<description><![CDATA[Pertama, wanita menutup wajahnya bukanlah sesuatu yang aneh di zaman kenabian. Karena hal itu dilakukan oleh ummahatul mukminin (para istri Rasulullah) dan sebagian para wanita sahabat. Sehingga merupakan sesuatu yang disyariatkan dan keutamaan. Kedua, membuka wajah juga dilakukan oleh sebagian sahabiah. Bahkan hingga akhir masa kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihin wa sallam, dan berlanjut pada perbuatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhamadilyas.wordpress.com&amp;blog=8013795&amp;post=509&amp;subd=muhamadilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertama, wanita menutup wajahnya bukanlah sesuatu yang aneh di zaman kenabian. Karena hal itu dilakukan oleh <em>ummahatul mukminin</em> (para istri Rasulullah) dan sebagian para wanita sahabat. Sehingga merupakan sesuatu yang disyariatkan dan keutamaan.<br />
Kedua, membuka wajah juga dilakukan oleh sebagian sahabiah. Bahkan hingga akhir masa kehidupan Nabi <em>shallallahu ‘alaihin wa sallam</em>, dan berlanjut pada perbuatan wanita-wanita pada zaman setelahnya.</p>
<p>Ketiga, seorang muslim tidak boleh merendahkan wanita yang menutup wajahnya dan tidak boleh menganggapnya berlebihan.</p>
<p>Keempat, dalil-dalil yang disebutkan para ulama yang mewajibkan cadar  begitu kuat; menunjukkan kewajiban wanita untuk berhijab (menutupi diri  dari laki-laki) dan berjilbab serta menutupi perhiasannya secara umum.  Dalil-dalil yang disebutkan para ulama yang tidak mewajibkan cadar  begitu kuat; menunjukkan bahwa wajah dan telapak tangan wanita bukan  aurat yang harus ditutup.</p>
<p>Inilah jawaban kami tentang masalah cadar bagi wanita. Mudah-mudahan  kaum muslimin dapat saling memahami permasalahan ini dengan  sebaik-baiknya. <em>Wallahu a’lam bishshawwab.</em></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.<br />
Sumber: Kumpulan tulisan ustadz Kholid Syamhudi<br />
Dipublikasikan kembali oleh www.muslimah.or.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhamadilyas.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhamadilyas.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhamadilyas.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhamadilyas.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhamadilyas.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhamadilyas.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhamadilyas.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhamadilyas.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhamadilyas.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhamadilyas.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhamadilyas.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhamadilyas.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhamadilyas.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhamadilyas.wordpress.com/509/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhamadilyas.wordpress.com&amp;blog=8013795&amp;post=509&amp;subd=muhamadilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhamadilyas.wordpress.com/2010/09/28/hukum-cadar-kesimpulan-antara-2-pendapat-ulama-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/34bf4a3eb1727cb159686244800d4c85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ilyas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Cadar: Dalil-Dalil Ulama yang Tidak Mewajibkan (4)</title>
		<link>http://muhamadilyas.wordpress.com/2010/09/28/hukum-cadar-dalil-dalil-ulama-yang-tidak-mewajibkan-4/</link>
		<comments>http://muhamadilyas.wordpress.com/2010/09/28/hukum-cadar-dalil-dalil-ulama-yang-tidak-mewajibkan-4/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Sep 2010 13:47:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ELSUNNAH&#8482;</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[cadar]]></category>
		<category><![CDATA[hijab]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhamadilyas.wordpress.com/?p=506</guid>
		<description><![CDATA[Ketujuh, Sahl bin Sa’d berkata, أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ جِئْتُ لِأَهَبَ لَكَ نَفْسِي فَنَظَرَ إِلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَعَّدَ النَّظَرَ إِلَيْهَا وَصَوَّبَهُ ثُمَّ طَأْطَأَ رَأْسَهُ… “Bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, saya datang untuk menghibahkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhamadilyas.wordpress.com&amp;blog=8013795&amp;post=506&amp;subd=muhamadilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ketujuh</strong>, Sahl bin Sa’d berkata,</p>
<p>أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ جِئْتُ لِأَهَبَ لَكَ نَفْسِي  فَنَظَرَ إِلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَصَعَّدَ النَّظَرَ إِلَيْهَا وَصَوَّبَهُ ثُمَّ طَأْطَأَ رَأْسَهُ…</p>
<p><em>“Bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, saya datang untuk  menghibahkan diriku kepada Anda.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa  sallam melihatnya, beliau menaikkan dan menurunkan pandangan kepadanya.  Lalu beliau menundukkan kepalanya……”</em> (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya)</p>
<p>Al Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> menyatakan, <em>“Di  dalam hadits ini juga terdapat (dalil) bolehnya memperhatikan  kecantikan seorang wanita karena berkehendak menikahinya… tetapi  (pemahaman) ini terbantah dengan anggapan bahwa hal itu khusus bagi Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau ma’shum, dan yang telah  menjadi kesimpulan kami, bahwa tidak haram bagi Nabi shallallahu ‘alaihi  wa sallam untuk melihat wanita mukmin yang bukan mahram, ini berbeda  dengan selain beliau. Sedangkan Ibnul ‘Arabi menempuh cara lain dalam  menjawab hal tersebut, dia mengatakan, “Kemungkinan hal itu sebelum  (kewajiban) hijab, atau setelahnya tetapi dia menyelubungi dirinya.”  Tetapi rangkaian hadits ini jauh dari apa yang dia katakan.”</em> (<em>Fathul Bari</em> IX/210).<span id="more-506"></span></p>
<p><strong>Kedelapan</strong>, ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em> berkata,</p>
<p>كُنَّ نِسَاءُ الْمُؤْمِنَاتِ يَشْهَدْنَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى  اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْفَجْرِ مُتَلَفِّعَاتٍ  بِمُرُوطِهِنَّ ثُمَّ يَنْقَلِبْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ حِينَ يَقْضِينَ  الصَّلَاةَ لَا يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْغَلَسِ</p>
<p><em>“Dahulu wanita-wanita mukminah biasa menghadiri shalat subuh  bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menutupi tubuh  (mereka) dengan selimut. Kemudian (mereka) kembali ke rumah-rumah mereka  ketika telah menyelesaikan shalat. Tidak ada seorang pun mengenal  mereka karena gelap.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dalam riwayat lain,</p>
<p>وَمَا يَعْرِفُ بَعْضُنَا وُجُوْهَ بَعْضٍ</p>
<p><em>“Dan sebagian kami tidak mengenal wajah yang lain.”</em> (HR. Abu Ya’la di dalam Musnadnya. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam <em>Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah</em>, hal. 66)</p>
<p>Dari perkataan ‘Aisyah, <em>“Tidak ada seorangpun mengenal mereka karena gelap.”</em> dapat dipahami, jika tidak gelap niscaya dikenali, sedangkan mereka  dikenali -menurut kebiasaan- dari wajahnya yang terbuka. (Lihat <em>Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah</em>, hal. 65).</p>
<p><strong>Kesembilan</strong>, ketika Fatimah binti Qais dicerai thalaq tiga oleh suaminya, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengutus seseorang kepadanya memerintahkan agar dia ber-’iddah di rumah  Ummu Syuraik. Tetapi kemudian beliau mengutus seseorang kepadanya lagi  dengan menyatakan,</p>
<p>أَنَّ أُمَّ شَرِيكٍ يَأْتِيهَا الْمُهَاجِرُونَ الْأَوَّلُونَ  فَانْطَلِقِي إِلَى ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ الْأَعْمَى فَإِنَّكِ إِذَا  وَضَعْتِ خِمَارَكِ لَمْ يَرَكِ فَانْطَلَقَتْ إِلَيْهِ …</p>
<p><em>“Bahwa Ummu Syuraik biasa didatangi oleh orang-orang Muhajirin  yang pertama. Maka hendaklah engkau pergi ke (rumah) Ibnu Ummi Maktum  yang buta, karena jika engkau melepaskan khimar (kerudung, penutup  kepala) dia tidak akan melihatmu. Fathimah binti Qais pergi kepadanya…”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa wajah bukan aurat, karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> membenarkan Fathimah binti Qais dengan memakai khimar dilihat oleh  laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa wajahnya tidak wajib ditutup,  sebagaimana kewajiban menutup kepalanya. Tetapi karena beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> khawatir dia melepaskan khimarnya (kerudung), sehingga akan nampak apa  yang harus ditutupi, maka beliau memerintahkannya dengan yang lebih  selamat untuknya; yaitu berpindah ke rumah Ibnu Ummi Maktum yang buta.  Karena dia tidak akan melihatnya jika Fathimah binti Qais melepaskan  khimar. (Lihat <em>Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah</em>, hal.  65).</p>
<p>Peristiwa ini terjadi di akhir kehidupan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Karena Fathimah binti Qais menyebutkan bahwa setelah habis ‘iddahnya dia mendengar Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menceritakan kisah tentang Dajjal dari Tamim Ad Dari yang baru masuk  Islam dari Nasrani. Sedangkan Tamim masuk Islam tahun 9 H. Adapun ayat  jilbab turun tahun 3 H atau 5 H, sehingga kejadian ini setelah adanya  kewajiban berjilbab. (Lihat <em>Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah</em>, hal. 66-67).</p>
<p><strong>Kesepuluh</strong>, Abdurrahman bin ‘Abis,</p>
<p>سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ قِيلَ لَهُ أَشَهِدْتَ الْعِيدَ مَعَ  النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ وَلَوْلَا  مَكَانِي مِنَ الصِّغَرِ مَا شَهِدْتُهُ حَتَّى أَتَى الْعَلَمَ الَّذِي  عِنْدَ دَارِ كَثِيرِ بْنِ الصَّلْتِ فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ ثُمَّ أَتَى  النِّسَاءَ وَمَعَهُ بِلَالٌ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ  بِالصَّدَقَةِ فَرَأَيْتُهُنَّ يَهْوِينَ بِأَيْدِيهِنَّ يَقْذِفْنَهُ فِي  ثَوْبِ بِلَالٍ ثُمَّ انْطَلَقَ هُوَ وَبِلَالٌ إِلَى بَيْتِهِ</p>
<p><em>“Saya mendegar Ibnu Abbas ditanya, “Apakah Anda (pernah)  menghadiri (shalat) ‘ied bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?”  Dia menjawab, “Ya, dan jika bukan karena posisiku (umurku) yang masih  kecil, niscaya saya tidak menyaksikannya. (Rasulullah keluar) sampai  mendatangi tanda yang ada di dekat rumah Katsir bin Ash Shalt, lalu  beliau shalat, kemudian berkhutbah. Lalu beliau bersama Bilal mendatangi  para wanita, kemudian menasihati mereka, mengingatkan mereka, dan  memerintahkan mereka untuk bersedekah. Maka aku lihat para wanita  mengulurkan tangan mereka melemparkannya (cincin, dan lainnya sebagai  sedekaah) ke kain Bilal. Kemudian Beliau dan Bilal pulang ke rumahnya.”</em> (HR. Bukhari, Abu Daud, Nasai, dan lainnya. Lafazh hadits ini riwayat Bukhari dalam <em>Kitab Jum’ah</em>)</p>
<p>Ibnu Hazm <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Inilah Ibnu Abbas -di  hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- melihat tangan para  wanita, maka benarlah bahwa tangan dan wajah wanita bukan aurat, adapun  selainnya wajib ditutup.”</em></p>
<p>Pengambilan dalil ini tidak dapat dibantah dengan perkataan,  kemungkinan kejadian ini sebelum turunnya ayat jilbab, karena peristiwa  ini terjadi setelah turunnya ayat jilbab. Dengan dalil, Imam Ahmad  meriwayatkan (dengan tambahan) Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> membacakan ayat <em>bai’atun nisa’</em> (surat Al Mumtahanah: 12), padahal ayat ini turun pada Fathu Makkah,  tahun 8 H, sebagaimana perkataan Muqatil. Sedangkan perintah jilbab  (hijab) turun tahun 3 H atau 5 H ketika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menikahi Zainab binti Jahsy (Lihat <em>Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah</em>, hal. 67, 75).</p>
<p><strong>Kesebelas</strong>, dari Subai’ah binti Al-Harits,</p>
<p>أَنَّهَا كَانَتْ تَحْتَ سَعْدِ ابْنِ خَوْلَةَ فَتُوُفِّيَ عَنْهَا فِي  حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَكَانَ بَدْرِيًّا فَوَضَعَتْ حَمْلَهَا قَبْلَ أَنْ  يَنْقَضِيَ أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ وَعَشْرٌ مِنْ وَفَاتِهِ فَلَقِيَهَا أَبُو  السَّنَابِلِ يَعْنِي ابْنَ بَعْكَكٍ حِينَ تَعَلَّتْ مِنْ نِفَاسِهَا  وَقَدِ اكْتَحَلَتْ (وَاحْتَضَبَتْ وَ تَهَيَّأَتْ) فَقَالَ لَهَا ارْبَعِي  عَلَى نَفْسِكِ أَوْ نَحْوَ هَذَا لَعَلَّكِ تُرِيدِينَ النِّكَاحَ</p>
<p><em>Bahwa dia menjadi istri Sa’d bin Khaulah, lalu Sa’d wafat pada  haji wada’, dan dia seorang Badari (sahabat yang ikut perang Badar).  Lalu Subai’ah binti Al Harits melahirkan kandungannya sebelum selesai 4  bulan 10 hari dari wafat suaminya. Kemudian Abu As Sanabil (yakni Ibnu  Ba’kak) menemuinya ketika nifasnya telah selesai, dan dia telah memakai  celak mata (dan memakai inai pada kuku tangan, dan bersip-siap). Lalu  Abu As Sanabil berkata kepadanya, “Jangan terburu-buru (atau kalimat  semacamnya) mungkin engkau menghendaki nikah…”</em> (HR. Ahmad. Dishahihkan Al Albani dalam <em>Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah</em>, hal. 69. Asal kisah riwayat Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Hadits ini nyata menunjukkan, bahwa kedua telapak tangan dan wajah  atau mata bukanlah aurat pada kebiasaan para wanita sahabat. Karena jika  merupakan aurat yang harus ditutup, tentulah Subai’ah tidak boleh  menampakkannya di hadapan Abu As Sanabil. Peristiwa ini nyata terjadi  setelah kewajiban jilbab (hijab), yaitu setelah haji wada’, tahun 10 H.  (Lihat <em>Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah</em>, hal. 69).</p>
<p><strong>Keduabelas</strong>, Atha bin Abi Rabah berkata,</p>
<p>قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ أَلَا أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ  الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى قَالَ هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتِ  النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنِّي أُصْرَعُ  وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي قَالَ إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ  وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ  فَقَالَتْ أَصْبِرُ فَقَالَتْ إِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ  لَا أَتَكَشَّفَ فَدَعَا لَهَا</p>
<p><em>Ibnu Abbas berkata kepadaku, “Maukah kutunjukkan kepadamu seorang  wanita dari penghuni surga?” Aku menjawab, “Ya”. Dia berkata, “Itu  wanita yang hitam, dia dahulu mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam lalu berkata, “Sesungguhnya aku  memiliki penyakit ayan  (epilepsi), dan (jika kambuh, auratku) terbuka. Berdoalah kepada Allah  untuk (kesembuhan) ku!”. Beliau menjawab, “Jika engkau mau bersabar  (terhadap penyakit ini), engkau mendapatkan surga. Tetapi jika engkau  mau, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.” Wanita tadi  berkata, “Aku akan bersabar. Tetapi (jika kambuh penyakitku, auratku)  terbuka, maka berdoalah kepada Allah untukku agar (jika kambuh, auratku)  tidak terbuka.” Maka beliau mendoakannya.</em> (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)</p>
<p><strong>Ketiga belas</strong>, Ibnu Abbas berkata,</p>
<p>كَانَتِ امْرَأَةٌ تُصَلِّي خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَسْنَاءَ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ فَكَانَ بَعْضُ  الْقَوْمِ يَتَقَدَّمُ حَتَّى يَكُونَ فِي الصَّفِّ الْأَوَّلِ لِئَلَّا  يَرَاهَا وَيَسْتَأْخِرُ بَعْضُهُمْ حَتَّى يَكُونَ فِي الصَّفِّ  الْمُؤَخَّرِ فَإِذَا رَكَعَ نَظَرَ مِنْ تَحْتِ إِبْطَيْهِ فَأَنْزَلَ  اللَّهُ تَعَالَى ( وَلَقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنْكُمْ  وَلَقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَأْخِرِينَ )</p>
<p><em>Dahulu ada seorang wanita yang sangat cantik shalat di belakang  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka sebagian laki-laki maju,  sehingga berada di shaf pertama agar tidak melihat wanita itu. Tetapi  sebagian orang mundur, sehingga berada di shaf belakang. Jika ruku’, dia  dapat melihat (wanita itu) dari sela ketiaknya. Maka Allah menurunkan  (ayat),</em></p>
<p>وَلَقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنكُمْ وَلَقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَأْخِرِينَ</p>
<p><em>“Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang  terdahulu daripadamu dan sesungguhnya Kami mengetahui pula orang-orang  yang terkemudian (daripadamu).”</em> (QS. Al Hijr: 24) (HR. Ash Habus Sunan, Al Hakim, dan lainnya. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam A<em>sh Shahihah</em> no. 2472. Lihat Jilbab <em>Al Mar’ah Al Muslimah</em>, hal. 70).</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa di zaman Nabi, wajah wanita biasa terbuka.</p>
<p><strong>Keempat belas</strong>, Ibnu Mas’ud berkata,</p>
<p>رَأَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ امْرَأَةً  فَأَعْجَبَتْهُ فَأَتَى سَوْدَةَ وَهِيَ تَصْنَعُ طِيبًا وَعِنْدَهَا  نِسَاءٌ فَأَخْلَيْنَهُ فَقَضَى حَاجَتَهُ ثُمَّ قَالَ أَيُّمَا رَجُلٍ  رَأَى امْرَأَةً تُعْجِبُهُ فَلْيَقُمْ إِلَى أَهْلِهِ فَإِنَّ مَعَهَا  مِثْلَ الَّذِي مَعَهَا</p>
<p><em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang wanita  sehingga wanita itu membuat beliau terpesona, kemudian beliau mendatangi  Saudah (istri beliau), yang sedang membuat minyak wangi dan di dekatnya  ada banyak wanita. Maka wanita-wanita itu meninggalkan beliau, lalu  beliau menunaikan hajatnya. Kemudian beliau bersabda: “Siapa pun lelaki  yang melihat seorang wanita, sehingga wanita itu membuatnya terpesona,  maka hendaklah dia pergi kepada istrinya, karena sesungguhnya pada  istrinya itu ada yang semisal apa yang ada pada wanita itu.”</em> (HR. Muslim, Ibnu Hibban, Darimi, dan lainnya. Lafazh ini riwayat Darimi. Lihat takhrijnya di dalam <em>Ash-Shahihah</em> no. 235)</p>
<p>Sebagaimana hadits sebelumnya, hadits ini nyata menunjukkan bahwa di zaman Nabi, wajah wanita biasa terbuka.</p>
<p><strong>Kelima belas</strong>, Dari Abdullah bin Muhammad, dari seorang wanita di antara mereka yang berkata,</p>
<p>دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  وَأَنَا آكُلُ بِشِمَالِي وَكُنْتُ امْرَأَةً عَسْرَاءَ فَضَرَبَ يَدِي  فَسَقَطَتِ اللُّقْمَةُ فَقَالَ لَا تَأْكُلِي بِشِمَالِكِ وَقَدْ جَعَلَ  اللَّهُ لَكِ يَمِينًا أَوْ قَالَ وَقَدْ أَطْلَقَ اللَّهُ يَمِينَكِ</p>
<p><em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemuiku ketika  aku sedang makan dengan tangan kiriku, karena aku seorang wanita yang  kidal. Maka beliau memukul tanganku sehingga sesuap makanan jatuh. Lalu  beliau bersabda, “Janganlah engkau makan dengan tangan kirimu, sedangkan  Allah telah menjadikan tangan kanan untukmu.” Atau bersabda, “Sedangkan  Allah telah menyembuhkan tangan kananmu.”</em> (HR. Ahmad dan Thabarani. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Jilbab <em>Al Mar’ah Al Muslimah</em>, hal. 72)</p>
<p><strong>Keenam belas</strong>, berlakunya perbuatan ini setelah wafatnya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.  Hadits-hadits di atas jelas menunjukkan tentang perbuatan sebagian  sahabiah yang membuka wajah dan telapak tangan pada zaman Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Bahkan hal ini terus berlangsung setelah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> wafat. Sebagaimana ditunjukkan dengan 16 riwayat yang dibawakan Syaikh Al Albani dalam <em>Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah</em> (hal. 96-103). Ini semua menguatkan, bahwa wajah dan telapak tangan wanita bukanlah aurat sehingga wajib ditutup.</p>
<p><strong>Ketujuh belas</strong>, anggapan terjadinya ijma’ tentang  wajah dan telapak tangan merupakan aurat yang wajib ditutup, tidaklah  benar. Bahkan telah terjadi perselisihan di antara ulama. Pendapat tiga  imam (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Syafi’i), menyatakan bukan  sebagai aurat. Ini juga merupakan satu riwayat dari Imam Ahmad. Di  antara ulama besar mazhab Hambali yang menguatkan pendapat ini ialah dua  imam; yakni Ibnu Qudamah dan Imam Ibnu Muflih. Ibnu Qudamah  rahimahullah menyatakan dalam Al Mughni, <em>“Karena kebutuhan mendorong telah dibukanya wajah untuk jual-beli, dan membuka telapak tangan untuk mengambil dan memberi.”</em> (Lihat <em>Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah</em>, hal. 7-9).</p>
<p><strong>Kedelapan belas</strong> (tambahan), dalil-dalil shahih di atas dengan tegas menunjukkan bahwa pada zaman Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,  wajah dan telapak tangan wanita biasa terbuka. Berarti wajah dan  telapak tangan wanita dikecualikan dari kewajiban untuk ditutup.  Sebagian keterangan di atas juga menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa  itu terjadi setelah turunnya ayat hijab (jilbab). Sehingga menunjukkan  diperbolehkannya membuka wajah dan telapak tangan bagi wanita tidak  terhapus oleh ayat jilbab. Kemudian, seandainya tidak diketahui bahwa  peristiwa-peristiwa itu terjadi setelah turunnya ayat hijab/jilbab, maka  hal itu menunjukkan diperbolehkannya membuka wajah dan telapak tangan  bagi wanita. Sedangkan menurut kaidah, bahwa setiap hukum itu tetap  sebagaimana sebelumnya sampai ada hukum lain yang menghapusnya. Maka  orang yang mewajibkan wanita menutup wajah wajib membawakan dalil yang  menghapuskan bolehnya wanita membuka wajah dan telapak tangan. Adakah  hal itu? Bahkan yang didapati ialah keterangan dan dalil yang memperkuat  hukum asal tersebut.</p>
<p>-bersambung insya Allah-</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.<br />
Sumber: Kumpulan tulisan ustadz Kholid Syamhudi<br />
Dipublikasikan kembali oleh www.muslimah.or.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhamadilyas.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhamadilyas.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhamadilyas.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhamadilyas.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhamadilyas.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhamadilyas.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhamadilyas.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhamadilyas.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhamadilyas.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhamadilyas.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhamadilyas.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhamadilyas.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhamadilyas.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhamadilyas.wordpress.com/506/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhamadilyas.wordpress.com&amp;blog=8013795&amp;post=506&amp;subd=muhamadilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhamadilyas.wordpress.com/2010/09/28/hukum-cadar-dalil-dalil-ulama-yang-tidak-mewajibkan-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/34bf4a3eb1727cb159686244800d4c85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ilyas</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
