Definisi Puasa, Nama lain Bulan Ramadhan, dan Puasa-puasa Sya’ban

Pada tulisan sebelumnya pada “Seri Persiapan Menyambut Ramadhan” telah dibahas pentingnya mempersiapkan diri dengan mencari ilmu tentang Ramadhan. Pada keseempatan kali ini akan dibahasa mengenai Definisi Puasa, Nama lain Bulan Ramadhan, dan Puasa-puasa Sya’ban.

Puasa Bulan Ramadhan memiliki beberapa nama, diantaranya yaitu

  • As Shiyam atau As Shaum yang berarti puasa dan ini adalah nama yang masyhur atau nama yang umum dikalangan kaum muslimin. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

Al Baqarah 183

”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [QS. Al Baqarah (2) : 183]

  • As Shobri  yang berarti kesabaran, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam,

”Puasa pada bulan-bulan kesabaran , dan puasa tiga hari setiap bulan itu sama dengan puasa setahun penuh.”

Beberapa sebab kenapa disebut bulan Ramadhan, diantaranya adalah

  • Dikarenakan me-rhamad-kan (menghapuskan/ menghancurkan) dosa-dosa pelakunya berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam,

Manshoma Ramadhana

’’Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap (ganjaran dari Allah) maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.( Riwayat Bukhari (2014) dan Muslim (1778))

  • Ada yang mengatakan disebut dengan Ramadhan dikarenakan rasa panasnya lapar, Dikarenakan orang yang berpuasanya merakan panasnya di perut karena lapar dan berusaha untuk menahan perihnya berpuasa. Berdasarkan hadis Zaid bin Mutsabit,

”Shalatnya orang-orang yang banyak taubat ialah ketika anak onta mulai kepanasan (yaitu awal awalnya teriknya matahari)”

  • Ada juga yang mengatakan dikarenakan memang kebiasaaan orang arab menamai  bulan di ambil dari bahasa-bahasa yang dulu, sesuai dengan keadaan jaman yang terjadi ketika itu. Ketika awal diwajibkannya puasa ramadhan terjadi tepat jatuh pada masa musim panas. Sama seperti nama bulan Rabiul awal, karena pada saat itu merupakan  musim semi pertama.

Jadi demikianlah asal muasal nama Ramadhan dan nama inilah yang terkenal sampai sekarang karena disebutkan juga dalam Al Quran dan Al Hadis. Sebenarnya mengetahui asal muasal penamaan Ramadhan tidaklah begitu krusial bagi kita, tetapi untuk sekedar pengetahuan bagi kita bahwasanya inilah yang menjadi pembahasan para ulama.

Selanjutnya mengenai jenis-jenis puasa, Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Kitab Puasa pada Syarah Umdah beliau menjelaskan bawa ada lima jenis puasa,

  1. Puasa yang diwajibkan oleh syariat, yaitu puasa pada bulan Ramadhan
  2. Puasa untuk membayar hutang puasa Ramadhan (qadha)
  3. Puasa yang wajib dalam hal kafarat (penebusan dosa). Misalnya kafarat  bagi orang yang berhubungan dengan istri pada siang hari pada bulan Ramadhan dengan cara membebaskan budak yang beriman atau puasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang. Dan misalnya kafarat membunuh orang tanpa sengaja dengan cara puasa dua bulan berturut-turut.
  4. Puasa yang wajib karena nadzar
  5. Puasa Sunnah atau Puasa Tathowwu

Hal-hal  yang perlu diperhatikan berkaitan sebelum masuknya bulan Ramadhan

Bulan yang datang sebelum bulan Ramadhan adalah bulan Sya’ban. Pada bulan ini disyariatkan untuk menggiatkan atau memperbanyak puasa. Hal ini berdasarkan hadis berikut,

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam biasa berpuasa sehingga kami menyangka beliau tidak akan berbuka dan beliau berbuka sehingga kami menyangka beliau tidak akan berpuasa. Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa dalam suatu bulan lebih banyak daripada bulan Sya’ban.” Muttafaq Alaihi.

Maksud dari hadis tersebut di atas adalah bahwa Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sering sekali berpuasa, dimana beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berpuasa sebulan penuh hanya pada bulan Ramadhan. Selain dari bulan Ramadhan, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam paling bayak atau paling sering berpuasa adalah pada bulan Sya’ban. Dan puasa yang dilakukan beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pada bulan Sya’ban ini adalah puasa mutlak. Maksudnya adalah tidak mengkhususkan pada hari-hari tertentu keculai waktu-waktu yang disunahkan seperti senin-kamis, puasa Dawud, puasa tiga hari di tengah bulan (tanggal 13, 14, 15 setiap bulan Hijriah), dan sebagainya.

Menurut para ulama terdapat hikmah dari disyariatkan atau disunahkan untuk memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, di antaranya:

  • Dimaksudnkan untuk mengagungkan atau memuliakan bulan Ramadhan. Puasa di bulan Sya’ban ini diibarakatkan seperti ibadah qabliah seperti shalat sunnah qabliah sebelum melaksanakan shalat yang fardu.
  • Sebagai latihan atau persiapan untuk menjalankan Puasa Ramadhan. Hal ini dimaksudkan supaya orang tidak terbiasa puasa tidak kaget ketika menjalani Puasa Ramadhan sebulan penuh.
  • Disebutkan oleh para ulama bahwa dikarenakan bulan syaban ialah bulan yang banyak dilalaikan oleh kaum muslimin. Hal ini dikarenakan bulan Sya’ban jatuh di antara dua bulan yang besar dalam islam yaitu bulan Rajab dan Ramadhan. Sehingga dalam rangka mengingatkan kaum muslimin bahwa sesungganya bulan Sya’ban juga merupakan bulan yang penting,  maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam banyak-banyak berpuasa di bulan ini. Hal ini berdasar  hadis yang dikeluarkan oleh Imam An Nasai dalam sunnahnya, ketika Usamah Radliyallaahu ‘anhu bertanya, ”Kenapa engkau wahai Rasulullah sering kali puasa sya’ban?” maka di jawab oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, ”Sya’ban itu bulan yang sering dilalaikan oleh orang-orang, ia jatuh antara Rajab dan Ramadhan, dan bulan itu ialah bulan di mana amalan-amalan hamba dinaikkan kepada Allah, saya ingin ketika amalan saya diangkat kepada Allah dalam keadaan saya sedang berpuasa.

Puasa Nishfu Sya’ban

Puasa Nishfu Sya’ban adalah puasa sehari yang dilakukan pada pertengahan bulan Sya’ban yaitu tanggal 15. Puasa ini sangat terkenal di kalangan kaum muslimin. Mengenai masalah ini, Puasa Nishfu Sya’ban dapat dilakukan perincian.

Kalau seseorang berpuasa pada pertengahan bulan Sya’ban karena memang sudah menjadi kebiasaannya pada tiap bulan hijriah, maka hal itu tidaklah mengapa dan diperbolehkan. Kebiasaan di sini maksudnya adalah bahwasanya orang tersebut mempunyai kebiasaan berpuasa pada tiap pertengahan bulan hijriah yaitu pada tangal 13, 14 dan 15.

Adapun kalau seseorang secara khusus atau sengaja mengkhususkan pada pertengahan Sya’ban untuk berpuasa sedangkan pada hari-hari lainnya tidak berpuasa, maka hal ini tidak ada tuntunannya dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Adapun hadis yang biasa disampaikan oleh orang-orang tentang nishfu Sya’ban ini adalah hadis yang katanya dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berikut,

”Kalau sudah malam pertengahan syaban maka hendaklah kalian qiyamul lail dan hendaklah kalin puasa di siang harinya”

Katanya pada malam nifsyu Sya’ban, Allah Subhanahu wata’ala  akan turun ke langit dunia. Hal ini persis seperti hadis nuzulnya mutafaq alaih Bukhari Muslim yaitu hadisnya Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu tetapi bukan untuk sepertiga malam terakhir melainkan untuk malam nishfu Sya’ban.

Ternyata hadis tersebut adalah maudu’ atau palsu. Hadis tersebut maudu’ dikarenakan pada sanadnya terdapat seorang rawi yang terkenal sebagai pemalsu hadis. Hadis ini dikeluarkan oleh Al Imam Ibnu Majah dalam sunnahnya. Pada sanadnya terdapat seorang rawi yang bernama Abu Bakar bin Abdillah bin Muhammad bin Abi Sabrah Al madani. Imam Ahmad Ibnu Hambal menyatakan bahwa orang ini tidak ada apa-apanya, orang ini adalah orang yang biasa memalsukan hadis dan pendusta. Jadi sesungguhnya hadis ini bukanlah hadis, tetapi merupakan hasil rekayasa dari Abu Bakar Al Madani tadi, Sang Pemalsu Hadis. Al Imam Al Alamah Muhammad Nassiruddin Al Albani rahimahullah menghukumi hadis ini sebagai hadis maudu’ atau hadis palsu sehingga tidak bisa dijadikkan hujjah.

Adapun tentang shalat malam (qiyamul lail) nishfu Sya’ban yang diterangkan dalam Kitab Al I’thisam yang diceritakan oleh Ath-Thartushi dari Abu Muhammad Al Maqdisi, ia berkata, “Sesungguhnya shalat anjuran yang dilakukan pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban tidak pernah ada sebelumnya pada kehidupan kami di Baitul Maqdis. Pertama kali terjadinya perkara tersebut yaitu pada tahun 448 H, setelah seorang laki-laki yang dikenal dengan panggilan Ibnu Abu Al Hamra’ datang kepada kami di Baitul Maqdis. la termasuk orang yang bacaan Al Qur’annya bagus. la lalu shalat di masjidil Aqsha pada malam pertengahan bulan Sya’ban dan diikuti oleh seseorang di belakangnya, lalu berikutnya terbentuklah satu shaf, lalu dua shaf, lalu tiga shaf, dan akhirnya ia mempunyai jamaah yang banyak. Pada tahun berikutnya ia datang kembali dan melakukan hal yang sama. Banyak orang shalat bersamanya berjam-jam di dalam masjid, hingga tersebarlah shalat tersebut di masjidil Aqsha dan di tempat tinggal mereka. Hal itu terus berjalan hingga seakan-akan menjadi Sunnah, sampai zaman kita ini.” Saya katakan kepadanya, “Saya melihatmu shalat bersama jamaah.” Ia menjawab, “Ya, tetapi saya telah memohon ampunan kepada Allah darinya.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab beliau Al Iqtidho hal 302 beliau rahimahullah menjelaskan,

”Adapun puasa nishfu Sya’ban secara khusus, maka tidak ada asalnya sama sekali dalam agama ini bahkan mengkhususkannya dengna puasa itu sangat di benci dalam islam, demikian pula menjadikan nishfu Sya’ban sebagai acara musiman, itu merupakan musiman-musiman yang bidah”

Pernyataan-pernyataan para ulama tadi mengacu pada hadis Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam,

hadis amalan tertolak

”Barang siapa mengamalkan amalan yang tidak tedapat padanya perkara kami, maka hal itu tertotak”(HR. Muslim).

Sebagaimana yang ditegaskan oleh ulama-ulama tadi dan ulama yang lainnya,  puasa yang dilakukan pada bulan Sya’ban adalah puasa mutlak, tidak mengkhususkan sehari saja pada pertengahan Sya’ban.

Hukum Berpuasa Setelah Pertengahan Sya’ban

Apakah diperbolehkan berpuasa setelah pertengahan Sya’ban (tanggal 16, 17,  dan seterusny) baik puasa sunnah, puasa qadha atau kafarat? Ada ikhtilaf di kalangan para ulama, jumhur (mayoritas) ulama berpendapat tidak mengapa dikarenakan tidak ada dalil yang melarang kaum muslimin untuk berpuasa setelah pertengahan Sya’ban. Yang ada larangannya adalah larangan mendahului puasa Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari. Adapun puasa setelah pertengahan Sya’ban tangal 16 – 27 diperbolehkan.

Pendapat yang kedua ialah pendapat Imam As Syafii rahimahullah dan yang semadzhab dengan beliau dan lainya menyatakan tidak diperbolehkan berpuasa sunnah setelah pertengahan Sya’ban. Mereka berdalil dengan hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, An Nasai, Ibnu Hiban, dan Al Hakim, semuanya dari jalan Al Ala bin Abdurrahman Maula Huroqah dari bapaknya (Abdurrahman) dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

”Apabila telah sampai pertengahan bulan Sya’ban, maka janganlah kamu berpuasa”.

Hadis tersebut dishahihkan oleh Imam At tirmidzi, Ibnu Hibban, Al Hakim, At Thahawi, Ibnu Abdil Bar dan yang lainnya, dihasankan oleh mereka ada juga yang menshahihkannya dikarenakan dhohir sanadnya memang hasan atau shahih.

Yang benar adalah pendapatnya jumhur ulama yang berpendapat tidak mengapa berpuasa sunnah walaupun Sya’ban telah mencapai pertengahan. Adapun hadis Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu ini adalah hadis mungkar, hadis yang ganjil,dan diingkari oleh para ulama. Dijelaskan oleh Al Imam Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullahita’ala dalam kitab beliau Lathoibul Ma ãrif bahwa para ulama berikhtilaf mengenai keshahihan hadis ini dalam perkara mengamalkannya. Ada pun penshahihannya banyak dishahihkan oleh para ulama diantaranya Imam At tirmidzi, Ibnu Hibban, Al Hakim, At Thahawi, Ibnu Abdil Bar. Namun kata beliau hadis ini diperbincangkan oleh para ulama yang lebih besar dan lebih alim daripa para ulama tadi. Mereka mengatakan bahwa hadis ini ialah hadis yang mungkar[1], yang sangat ganjil, yang tidak bisa diamalkan. Diantara ulama-ulama tersebut adalah Abdurrahman bin Mahdi, Imam Ahmad, Abu Zur’ah, Al Akram, dan Ad Daraquthni. Mereka menyatakan bahwa hadis Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu ini mungkar dikarenakan hadis lain yang juga diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu yang dishahihkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Janganlah engkau mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari, kecuali bagi orang yang terbiasa berpuasa, maka bolehlah ia berpuasa.”

Inilah hadis yang shahih dari riwayat Bukhari Muslim dari sahabat yang sama pula (Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu). Larangannya itu hanya berlaku kalau puasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan. Hal ini menunjukkan bahwa kalau puasa yang dilaksanakan tiga hari, empat hari dan seterusnya sebelum Ramadhan tidaklah mengapa , dan hadis ini lebih shahih. Oleh Karena itu, Imam Hanbali rahimahullah mengatakan bahwa hadis yang mengatakan dilarangnya puasa sunnah setelah pertengahan Sya’ban adalah hadis yang ganjil yang menyelisihi hadis-hadis yang shahih. Maka kesimpulannya tidak mengapa puasa setelah pertengahan Sya’ban dan yang diarang adalah puasa satu hari atau dua hari sebelum Ramadhan.

Sampai sini dulu tulisan perdana mengenai Puasa Bulan Ramadhan dan insya Allah nanti akan dilanjutkan mengenai materi-materi lain berkaitan dengan persiapan dalam rangka menyamput bulan suci Ramadhan.

Wallahu’alam,

Daftar Pustaka:

-          Kajian Puasa Ramadhan Ustadz Muhammad Afifuddin, http://www.darussunnah.com

-          Bulughul Maram Bab Puasa karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqolani

-          Al I’tisham karya Imam Asy Syathibi

Download tulisan ini disini.


[1] Lihat juga penjelasan pada Kitab Bulughul Maram, Kitab Puasa Bab Puasa Sunnah dan Puasa yang Terlarang, Hadis no. 711

reseller buku islami

About these ads

5 thoughts on “Definisi Puasa, Nama lain Bulan Ramadhan, dan Puasa-puasa Sya’ban

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s